Rabu, 31 Desember 2014

Masjid Lueng Bata Tempat Nyak Radja Merancang Perang



Masjid ini pernah jadi tempat singgah Sultan Aceh ketika istana direbut Belanda. Di sini pula digelar pelantikan pengganti Sultan Mahmud Syah.

__________________________________________

Di perkarangan kompleks itu tampak beberapa bangunan. Pohon asam jawa rimbun berjejeran di dekat pagar setengah meter warna biru. Di tengah kompleks terlihat bangunan menjulang. Inilah Masjid Jamik Lueng Bata, Banda Aceh. Warga Kota Banda Aceh kerap menyebutnya Masjid Lueng Bata. Letak masjid hanya sepelemparan batu dari Jalan Banda Aceh-Medan.



Pertengahan Agustus lalu, masjid sedang direhab. Ada beberapa dinding bata belum diplester. Beberapa pekerja memasang relief di sudut kanan masjid.




Di utara masjid ada bangunan tua berukuran sekitar 10 x 12 meter. Bangunan ini berdinding setengah permanen. Di atas dinding ditambahkan besi hijau. Atap sengnya sudah kehitaman. Bangunan ini hanya memiliki satu pintu masuk.



Bangunan inilah cikal bakal Masjid Lueng Bata. Gedung ini telah berdiri sekitar tahun 1940. Bisa dikatakan inilah masjid kecamatan pertama di Lueng Bata. Warga menyebut masjid lama itu sebagai “masjid tuha (tua)”.



Pendirinya Teuku Imum Lueng Bata yang juga bernama Teuku Nyak Radja Imum Lueng Bata atau akrab dikenal Teuku Imum Lueng Bata. Ia salah seorang kepercayaan Sultan Aceh.



Ia memimpin Kemukiman Lueng Bata yang kala itu berstatus daerah bibeuh atau bebas. Walaupun Lueng Bata berkategori mukim dan dipimpin uleebalang bernama Teuku Raja, wilayah ini diperintah langsung oleh sultan. Biarpun berbeda dengan sagi XXV mukim, sagi XXVI, dan sagi XXII mukim, kedudukan pimpinannya setara dengan panglima tiga sagi tersebut.


Kepahlawan Imum Lueng Bata bersinggungan dengan Belanda. Sejarah mencatat pada 14 April 1873 Jendral Kohler tewas tertembus timah panah di bawah pohon di depan Masjid Baiturrahman. Desas-desus beredar, Kohler tewas karena ditembak salah satu sniper yang juga pengikut Imum Lueng Bata.


Namun Teuku Nukman, cucu Imum Lueng Bata membantahnya. Menurut Nukman, sang kakeklah yang menembak Kohler. Jarak Kohler dengan Imum Lueng Bata sekitar 100 meter.

Ketika agresi Belanda kedua terhadap Kerajaan Aceh, Sultan, Panglima Polem, dan Teuku Baet menyingkir ke Lueng Bata. Selain menghindari bombardir dari Belanda, kala itu wabah kolera pun sedang berjangkit. Salah satu korban adalah Sultan Mahmud Syah. Ia mangkat pada 29 Januari di Pagar Air atau Pagar Aye, tak jauh dari Lueng Bata. Sultan Mahmud dimakamkan di Cot Bada, Samahani, Aceh Besar. Setelah itu, langsung digantikan posisi sementara sultan oleh Tuwanku Hasyim Bantamuda.


Seharusnya posisi ini dijabat Tuwanku Muhammad Daud Syah yang dinobatkan sebagai sultan di Masjid Indrapuri pada 1878. Namun, Daud Syah dianggap belum cukup umur. Di masjid tuha Lueng Bata itulah, pelantikan Tuwanku Hasyim Bantamuda digelar.


Menurut cerita, masjid tuha merupakan markas dan tempat bermusyawarahnya pasukan Imum Lueng Bata. Masjid lama itu kini tak lagi digunakan untuk salat. “Karena kapasitasnya terlalu kecil untuk masjid kecamatan,” ujar Marzuki, salah satu pengurus masjid.

Bentuk masjid lama menyerupai Masjid Indrapuri dengan kubah satu bersegi empat dan tidak bertingkat. Dindingnya juga tebal sehingga dapat dijadikan benteng apabila sewaktu-waktu terjadi penyerangan dari Belanda.


Namun, bangunan yang tersisa sekarang, menurut Nukman, strukturnya jauh dari asli. “Masjid tersebut sudah beberapa kali dirombak,” ujar Nukman.

Sejak 6 Oktober 1968 ketika dibangun masjid baru, masjid tuha diubah menjadi perpustakaan. Tempat ini tak hanya digunakan anak TPA dan remaja masjid. Ada juga siswa-siswa yang mengunjungi perpustakaan itu setiap harinya. “Bahkan, perpustakaan ini menjadi tempat persinggahan siswa saat pulang sekolah meski kadang tidak masuk, hanya sekadar beristirahat di teras pustaka,” ujar Marzuki.

Tepat di depan perpustakaan, ada empat makam dipagari besi setinggi pinggang. Makam-makam ini keluarga Imum Lueng Bata yang dulu sempat menjadi pengurus masjid setelah Teuku Imum Lueng Bata meninggal. Juga ada makam anaknya yang bernama Teuku A.A. Shamaun bin Teuku Ibarahim bin Teuku Imeum Lueng Bata.



Menurut Marzuki, disebut Masjid Jamik karena bangunan ini terletak di kecamatan. “Jamik itu berarti masjid besar di suatu daerah atau di sebuah kecamatan dan mukim,” ujarnya. Selain berperang melawan Belanda, kata dia, Imum Lueng Bata juga sangat peduli dengan ibadah dan berinisiatif mendirikan masjid agar masyarakat bisa beribadah bersama.


Sayangnya, pembuat masjid itu tak jelas di mana makamnya. Imum Lueng Bata disebut-sebut meninggal dalam pengejaran Belanda. Namun, lokasinya tak diketahui pasti. Dari yang didengar Nukman, Imum Lueng Bata meninggal di kawasan Pidie. “Hanya Allah yang tahu kenapa beliau tidak diketahui makamnya,” ujar Nukman.[]


Ibnu Batuthah dan Negeri Bernama Samudera



Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau Ibnu Batutah adalah seorang pengembara dari Berber, Afrika Utara. Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji - ziarah ke Mekah. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).



Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Semenanjung Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, 'Rihlah' merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.


Sebelum Dinasti Usmaniyah (Ottoman) di Turki berdiri pada 699-1341 H atau bertepatan dengan tahun 1385-1923 M, ternyata nun jauh di belahan dunia sebelah timur tepatnya di wilayah Aceh saat ini telah muncul sebuah kerajaan Islam bernama Samudera Pasai. Keberadaan Kesultanan Samudera Pasai ini diungkapkan Ibnu Batuthah (1304-1368 M), dalam kitabnya yang berjudul “Rihlah ila I-Masyriq” (Pengembaraan ke Timur).


“Sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah...”





Gambaran Ibnu Batutah secara fisual
Begitulah Ibnu Batuthah menggambarkan kekagumannya terhadap keindahan dan kemajuan Kerajaan Samudera Pasai yang sempat disinggahinya selama 15 hari pada 1345 M.


Sementara itu, dalam catatan perjalanan Ibnu Batuthah lainnya yang berjudul “Tuhfat al-Nazha”, ia menuturkan, pada masa itu Samudera Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara.



Jauh sebelum Sang Pengembara Muslim itu menginjakkan kakinya di kerajaan Muslim pertama di nusantara itu, seorang penjelajah asal Venezia (Italia), yang bernama Marco Polo, telah mengunjungi Samudera Pasai pada 1292 M.


Marco Polo bertandang ke Samudera Pasai saat menjadi pemimpin rombongan yang membawa ratu dari Cina ke Persia. Bersama dua ribu orang pengikutnya, Marco Polo singgah dan menetap selama lima bulan di bumi Serambi Makkah itu.



Dalam kisah perjalanan berjudul “Travel of Marco Polo”, pelancong dari Eropa itu juga mengagumi kemajuan yang dicapai Kesultanan Samudera Pasai.


Kesultanan Samudera Pasai terletak di pesisir pantai utara Sumatera kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, sekarang ini. Kesultanan ini didirikan oleh Meurah Silu pada sekitar tahun 1267 M.


Ia adalah keturunan dari Suku Imam Empat atau Sukee Imuem Peuet sebutan untuk keturunan empat maharaja (meurah) bersaudara yang berasal dari Mon Khmer (Champa), yang merupakan pendiri pertama kerajaan-kerajaan di Aceh pra-Islam.


Keempat maharaja tersebut adalah Syahir Po-He-La yang mendirikan Kerajaan Peureulak (Perlak) di Aceh Timur, Syahir Tanwi yang mendirikan Kerajaan Jeumpa (Champa) di Peusangan (Bireuen), Syahir Poli (Pau-Ling) yang mendirikan Kerajaan Sama Indra di Pidie, dan Syahir Nuwi yang mendirikan Kerajaan Indra Purba di Banda Aceh dan Aceh Besar.


Malik As Saleh



Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, disebutkan asal muasal penamaan Kerajaan Samudera Pasai. Syahdan, suatu hari, Meurah Silu melihat seekor semut raksasa yang berukuran sebesar kucing. Meurah yang kala itu belum memeluk Islam menangkap dan memakan semut itu. Dia lalu menamakan tempat itu Samandra.


Tak semua orang percaya kisah yang berbau legenda itu. Sebagian orang meyakini kata Samudera berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti laut. Sedangkan, kata Pasai diyakini berasal dari Parsi: Parsee atau Pase. Pada masa itu, banyak pedagang dan saudagar Muslim dari Persia-India alias Gujarat yang singgah di wilayah Nusantara.


Meurah Silu kemudian memutuskan masuk Islam dan berganti nama menjadi Malik Al-Saleh atau dikenal dengan sebutan Malik As-Saleh. Menurut legenda masyarakat Aceh, suatu hari Meurah Silu bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Setelah itu, ia pun memutuskan masuk Islam.


Malik Al-Saleh mulai menduduki takhta Kesultanan Samudera Pasai pada 1267 M. Di bawah kepemimpinan Malik Al-Saleh, Samudera Pasai mulai berkembang. Ia berkuasa selama 29 tahun dan digantikan oleh Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M).


Namun, ada juga yang menyebutkan, Malik Al-Saleh diangkat menjadi sultan di Kerajaan Samudera Pasai oleh seorang Laksamana Laut dari Mesir bernama Nazimuddin Al-Kamil setelah berhasil menaklukkan Pasai.


Menurut Marco Polo, Malik As-Saleh adalah seorang raja yang kuat dan kaya. Ia menikah dengan putri raja Perlak dan memiliki dua anak. Ketika berkuasa, Malik As-Saleh menerima kunjungan Marco Polo.


Pada masa pemerintahan Malik As-Saleh, Samudera Pasai memiliki kontribusi yang besar dalam pengembangan dan penyebaran Islam di Tanah Air. Samudera Pasai banyak mengirimkan para ulama serta mubaligh untuk menyebarkan agama Islam ke Pulau Jawa.


Selain itu, banyak juga ulama Jawa yang menimba ilmu agama di Pasai. Salah satunya adalah Syekh Yusuf—seorang sufi dan ulama penyebar Islam di Afrika Selatan yang berasal dari Makassar.



Wali Songo merupakan bukti eratnya hubungan antara Samudera Pasai dan perkembangan Islam di Pulau Jawa. Konon, Sunan Kalijaga merupakan menantu Maulana Ishak, salah seorang Sultan Pasai. Selain itu, Sunan Gunung Jati yang menyebarkan Islam di wilayah Cirebon serta Banten ternyata putra daerah Pasai.


Kesultanan Samudera Pasai begitu teguh dalam menerapkan agama Islam. Pemerintahannya bersifat teokrasi (agama) yang berdasarkan ajaran Islam. Tak heran bila kehidupan masyarakatnya juga begitu kental dengan nuansa agama serta kebudayaan Islam.


Sebagai sebuah kerajaan yang berpengaruh, Pasai juga menjalin persahabatan dengan penguasa negara lain, seperti Champa, India, Tiongkok, Majapahit, dan Malaka. Menurut Marco Polo, Sultan Malik As-Saleh sangat menghormati Kubilai Khan, penguasa Mongol di Tiongkok.


Kesultanan Islam Pertama


Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai dan Hikayat Melayu, disebutkan bahwa kemunculan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam diperkirakan dari awal atau pertengahan abad ke-13 M. Ini sebagai hasil dari proses Islamisasi dari daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7 M.


Dugaan atas berdirinya Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M ini didukung oleh data-data hasil penelitian terhadap beberapa sumber yang dilakukan, terutama oleh sarjana-sarjana Barat.







Ibn Battuta and Marco Polo travels maps


Khususnya, para sarjana Belanda sebelum perang, seperti Christian Snouck Hurgronje, JP Moquette, JL Moens, J Hushoff Poll, GP Rouffaer, dan HKJ Cowan. Kedua hikayat tersebut dan para sarjana Barat juga menyebutkan bahwa pendiri Kerajaan Samudera Pasai adalah Sultan Malik As-Saleh.


Akan tetapi, dua buah naskah lokal yang ditemukan di Aceh, yakni “Idah Al-Haqq fi Mamlakat Peureula” karya Abu Ishaq Makarani dan “Tawarikh Raja-Raja Pasai”, mengungkapkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai sudah berdiri pada 433 H/1042 M. Kerajaan yang dikuasai oleh Dinasti Meurah Khair ini terus berlangsung sampai tahun 607 H/1210 M.


Pada tahun ini, Baginda Raja meninggal dunia dan tidak meninggalkan putra. Setelah itu, negeri Samudera Pasai menjadi rebutan antara pembesar-pembesar istana. Keadaan politik yang tidak stabil itu berlangsung kurang lebih 50 tahun. Keadaan baru berubah menjadi lebih baik setelah naiknya Meurah Silu, yang kemudian bergelar Malik As-Saleh.


Hal ini berbeda dengan Hikayat Raja-Raja Pasai yang mengatakan bahwa Meurah Silu pada mulanya beragama Hindu. Ia kemudian masuk Islam melalui Syekh Ismail, seorang utusan Syarif Makkah dan mendapat gelar Sultan Malik As-Saleh.



Sumber ini menyebutkan Meurah Silu berasal dari keturunan Raja Islam Perlak. Pendukung analisis ini berpendapat bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara bukanlah Samudera Pasai, melainkan Kerajaan Perlak.


Dalam catatan perjalanan Ibnu Batuthah, disebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam. Kerajaan itu juga digunakan sebagai tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi tentang masalah-masalah keagamaan dan keduniawian sekaligus.


Kerajaan Samudera Pasai, menurut Ibnu Batuthah, tetap berlangsung hingga tahun 1524. Pada tahun 1521, kerajaan tersebut ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun.


Setelah itu, pada tahun 1524 dan seterusnya, Kerajaan Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. (az/rol)


Ditemukan, Arca Hewan yang Diyakini Sebagai Objek Pemujaan

Dua buah arca berbentuk hewan ditemukan di situs Tel Moza, yang berada tak jauh dari Yerusalem.
hewan,patung,singaIlustrasi (Thinkstockphoto)

Arkeolog menemukan dua patung atau arca kecil berusia 9.500 tahun dalam penggalian di Israel. Demikian dilaporkan Israel Antiquities Authority (IAA), Rabu (29/8).


Tepatnya arca berbentuk hewan ini ditemukan dari situs Tel Moza, yang berada tak jauh dari Yerusalem. Ekskavasi tersebut berlangsung sebelum pelebaran jalan raya utama yang merupakan penghubung antara kota Yerusalem dan Tel Aviv.


Artefak pada masa Neolitikum yang ditemukan salah satunya berupa arca batu kapur mirip biri-biri jantan dengan pahatan dengan bentuk tanduk spiral. Sedangkan arca satunya terbuat dari dolomit dan memiliki bentuk lebih abstrak, seperti sapi liar. Keduanya memiliki panjang sekitar 15 sentimeter.



Para arkeolog yakin kedua arca itu merupakan bagian dari objek pemujaan bagi orang-orang yang membuatnya. Arca ditemukan dekat bekas bangunan bundar kuno, yang berasal dari periode transisi manusia dari kehidupan berburu yang nomaden ke kehidupan bertani dan menetap.


"Berburu merupakan aktivitas utama pada masa itu," ujar salah satu penggali situs, Hamoudi Khalaily, dalam sebuah pernyataan, "Arca ini digunakan sebagai benda pembawa keberuntungan saat berburu, dan sepertinya merupakan semacam fokus dalam upacara yang digelar para pemburu itu sebelum berangkat mencari buruan."

Namun, arkeolog dan penggali Anna Eirikh berpendapat bahwa artefak hewan mungkin pula ada kaitannya dengan proses penjinakan binatang.

(Gloria Samantha. Live Science)


Kisah Para Tahanan Digul

Boven Digul, sebuah wilayah di pedalaman Papua, dulu pernah tersohor sebagai tempat pengasingan para tahanan politik. Pada masa kolonial Belanda (1927-1943), lebih dari 1.000 orang “pemberontak” dipenjarakan disini. Para ekstremis ini kebanyakan berasal dari Jawa dan Sumatera Barat. Memang, ke dua daerah ini merupakan wilayah Hindia-Belanda yang paling sering melakukan perlawanan. Pemberontakan komunis di Banten 1926 dan Silungkang 1927, merupakan perlawanan terbesar bangsa Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pemberontakan ini menimbulkan kepanikan yang hebat di kalangan orang-orang kulit putih. Di Batavia, banyak orang Belanda diliputi rasa cemas. Mereka takut keluar rumah dan lebih memilih untuk mengunci diri. Sejak pemberontakan itu, Belanda telah menangkap sekitar 20.000 orang rakyat Indonesia. Dari jumlah itu, 1.308 orang diasingkan (823 orang ke kamp Digul), dan 16 orang di hukum gantung.

Kamp konsentrasi Digul didirikan oleh Kapten L. Th. Becking pada awal tahun 1927. Kamp ini terletak di hulu Sungai Digul, yang berjarak kira-kira 455 km dari bibir pantai Laut Arafura. Dulu, di-Digul-kan berarti harus menghadapi maut. Hal ini dikarenakan banyaknya nyamuk malaria yang sering menyerang para penghuni kamp. Di samping itu ada pula jenis penyakit mematikan lainnya, yang dikenal sebagai black water fever. Selain dua penyakit tersebut, musuh terbesar para penghuni kamp adalah rasa sepi dan kejenuhan yang luar biasa. Tekanan semacam ini kemudian menimbulkan ketegangan dan gangguan jiwa bagi sebagian interniran.

Setelah Perang Pasifik berkecamuk dan Jepang menginvasi wilayah Hindia-Belanda, kamp Digul segera ditutup. Banyak tahanan yang dibebaskan dan sebagian diungsikan ke Australia. Disana, para mantan Digulis mendirikan Komite Indonesia Merdeka. Di Brisbane, mereka turut mensponsori pemogokan buruh-buruh pelabuhan. Tak hanya itu, mereka juga mensabotase kapal-kapal yang akan mengangkut persenjataan ke Hindia-Belanda. Tak sedikit pula dari mereka yang akhirnya kecantol dan menikah dengan wanita Australia. Diantaranya adalah Mohammad Bondan dan Zakaria.

Penghuni kamp Digul hampir semuanya adalah para aktivis politik. Diantara tokoh-tokoh terkenal yang kelak menjadi pemimpin bangsa adalah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Ada banyak cerita dari para penghuni kamp, yang merupakan sejarah kecil (petite histoire) dalam perjalanan menuju Indonesia merdeka. Antara lain cerita tentang Thomas Nayoan, seorang Minahasa yang selalu berusaha untuk melarikan diri dari kamp tersebut. Dalam buku “Jalan ke Pengasingan” karya John Ingleson, diceritakan bahwa meski usahanya mengalami kegagalan, namun Nayoan tak pernah patah arang. Dalam pelariannya yang ke dua kali, ia sempat tiba di Australia dengan perahu. Namun dikarenakan adanya perjanjian ekstradisi antara Australia dan Hindia-Belanda, ia digelandang dan kembali ke Digul. Karena tahu pelariannya ke selatan tak akan selamat, dalam pelariannya yang ketiga ia nekat masuk hutan Papua. Setelah itu kabarnya tak terdengar lagi. Tak jelas apa sebabnya Thomas Nayoan di-Digul-kan. Memang! ia ikut pemberontakan PKI di Banten. Namun posisinya di dalam partai tersebut tidaklah menentukan. Ia ditangkap oleh opas kolonial di Surabaya pada tanggal 7 Oktober 1926. Setelah itu, tiga bulan ia menjalani hukuman penjara di Manado. Sebelum akhirnya dikirim ke Boven Digul.

Cerita lainnya datang dari Mohammad Bondan, aktivis PNI kelahiran Cirebon tahun 1910. Lewat buku “Spanning a Revolution”, Molly Bondan menceritakan pengalaman suaminya selama berada di kamp konsentrasi Digul. Dalam buku itu dikisahkan bagaimana senangnya Bondan ketika di Digul, bisa berkenalan dan belajar bersama Hatta, Sjahrir, dan para aktivis lainnya. Bondan juga bertutur tentang perlakukan pemerintah kolonial, yang sering mengadu domba antara tahanan yang mau bekerja sama dengan Belanda dan yang tidak. Selain itu dibeberkan pula bagaimana ia dan kawan-kawannya mengurusi kebutuhan sendiri, karena makanan yang didapat dari pemerintah kolonial tidaklah mencukupi.

Kisah lain adalah tentang Ayun Sabiran, yang ditangkap pemerintah kolonial ketika hendak menyelundupkan bahan-bahan kimia ke Padang Panjang. Konon bahan kimia tersebut akan digunakan sebagai bahan peledak untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Sebenarnya Sabiran hanyalah kroco dalam pergerakan kaum muda di Sumatera Barat. Namun keberaniannya menyamar sebagai seorang Katolik dan menyelundupkan bahan-bahan kimia dari Batavia, membuat pemerintah Hindia-Belanda memasukkan namanya ke dalam daftar pemberontak yang harus di-Digul-kan. Beruntung bagi dirinya, di Digul ia berkenalan dengan Salihun, seorang aktivis asal Banten. Disana ia dinikahkan dengan Yumenah, yang juga merupakan putri Salihun. Setelah menjalani masa hukuman selama enam tahun (1927-1933), Sabiran dibebaskan. Kemudian ia menjalani kehidupan normalnya di Jakarta, dengan berdagang dan mengelola studio foto. Kisah tentang Ayun Sabiran ini diceritakan oleh putra pertamanya Misbach Yusa Biran, dalam bukunya “Kenang-kenangan Orang Bandel.”

Diantara para tahanan Digul, Chalid Salim merupakan salah seorang yang paling lama menghuni kamp tersebut. Terhitung hingga tahun 1943, ia telah menghuni Boven Digul selama 15 tahun. Chalid merupakan adik kandung Haji Agus Salim. Karakternya setali tiga uang dengan sang kakak : berhati keras, kokoh, dan tak mau membungkuk. Namun begitu, ideologi mereka bertolak belakang. Sang kakak memilih ideologi Islam dalam perjuangannya, sedangkan si adik melewati jalur komunis. Chalid ditangkap dalam kapasitasnya sebagai wartawan. Tulisan-tulisannya kerap kali memerahkan kuping para penguasa. Dalam sebuah harian terbitan Medan : Pewarta Deli, Chalid menyerang kebijakan pemerintah yang menerapkan poenale sanctie. Bukan didengarkan, kritiknya itu malah berujung penangkapan atas dirinya. Ia dipenjarakan selama satu tahun di Medan, sebelum akhirnya dikirim ke Digul. Kisah Chalid Salim selama di Boven Digul, diceritakannya secara tuntas dalam buku yang bertajuk “Vijftien Jaar Boven-Digoel Concentratiekamp op Nieuw-Guinea Bakermat van de Indonesische Onafhankelijkheid (terjemahan: Lima Belas Tahun Digul, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea, Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia).”

Satu lagi wartawan yang dibuang ke Digul adalah Marco Kartodikromo. Seperti halnya Chalid Salim, Marco merupakan wartawan berhaluan kiri. Akibat tulisannya di media massa, ia berulang kali keluar masuk penjara. Marco pertama kali masuk bui pada tahun 1915, atas tuduhan persdelicten (pelanggaran etika pers). Setelah keluar penjara Semarang, setahun kemudian ia masuk penjara Weltevreden, akibat menyebarkan selebaran yang menebar kebencian kepada pemerintah. Dua kali masuk penjara, tak membuatnya bungkam untuk mengkritik kolonialisme. Tahun 1924, ia bergabung dengan organisasi Sarekat Islam, dan turut melakukan Pemberontakan Banten 1926. Setahun kemudian ia diciduk pemerintah kolonial dan dibuang ke Boven Digul. Disana ia menemui ajalnya, setelah terkena penyakit TBC. Marco wafat pada tanggal 18 Maret 1932, dan jasadnya dikebumikan di pekuburan ujung kampung B.

Afandri Adya

Candi Ratu Boko: Misteri yang Terlupakan

“Eh… liburan ini ke candi prambanan yuk!”

“Boleh, boleh… Sekalian aja ke candi ratu boko ya”

“Candi ratu boko? Emang dimana ? Aku baru denger ada candi yang namanya candi ratu boko”

“ Ah.. kamu ini, itu lho yang sebelah selatan candi prambanan!!”

Itulah mungkin kutipan percakapan yang membuktikan bahwa memang dewasa ini masyarakat pada umumnya kurang mengenal tentang candi ratu boko. Mereka seakan melupakan bangunan istana peninggalan kerajaan mataram kuno itu. Candi ratu boko mungkin kalah “tersohor” daripada candi Prambanan ataupun candi Borobudur. Padahal letaknya tidak jauh dari candi prambanan, yaitu sekitar 3 kilometer kearah selatan candi prambanan. Tepatnya di kecamatan Bokoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Serkilas tentang sejarahnya, candi Ratu Boko, yang juga peninggalan kerajaan mataram kuno ini bermula dari seorang belanda bernama H.J. DeGraff pada abad ke 17. Ia mencatat bahwa orang-orang Eropa yang datang ke Jawa telah melaporkan keberadaan tempat peninggalan sejarah purbakala. Mereka menerangkan bahwa telah ditemukan reruntuhan bangunan istana di Bokoharjo, yang konon istana Prabu Boko, seorang Raja berasal dari Bali. Sedangkan kisah lain yaitu kisah prabu boko yang berkembang sebagai cerita rakyat kuno tanah jawa juga menyebutkan telah ditemukannya reruntuhan bangunan istana pada jaman masuknya agama hindu persis ditempat yang dicatat oleh seorang Belanda tersebut. Namun, kutipan kisah Mas Ngabehi Purbawidjaja dalam Serat Babad Kadhiri mungkin yang lebih jelas menggambarkan keberadaan candi Ratu Boko yang dipenuhi pesona mistis didalamnya. Adapun kutipannya sebagai berikut :

Alkisah pada suatu ketika, bertahtalah seorang Raja yang bernama Prabu Dewatasari di Kraton Prambanan, namun banyak diantara rakyatnya yang menyebut juga bahwa Raja Prambanan adalah Prabu Boko, seorang Raja yang ditakuti karena konon menurut cerita, Prabu Boko gemar makan daging manusia. Dan ternyata, sesungguhnya Prabu Boko adalah seorang perempuan, yaitu permaisuri Raja Prambanan yang bernama asli Prabu Prawatasari. Prabu Boko adalah perempuan titisan raksasa yang bernama Buto Nyai, meskipun begitu, kecantikannya tidak ada yang menandingi di wilayah Jawa Tengah kala itu. Dan karena postur badannya yang tinggi melebihi rata-rata tinggi orang dewasa di masa itu, maka dia juga mendapat nama alias atau julukan Roro Jonggrang. Setelah melahirkan putranya, Prabu Boko mempunyai kebiasaan memakan daging manusia. Dan karena perbuatannya tersebut, sang Raja Prabu Dewatasari murka dan mengusir permaisurinya meninggalkan istana. Kepergian sang permaisuri meninggalkan luka bagi Raja dan putranya yang masih bayi. Akhirnya dibuatlah patung dari batu yang menyerupai istrinya yang kini dikenal dengan Roro Jonggrang.

Setelah mengulik sejarahnya, tak afdol rasanya bila kita tidak mengulas tentang bentuk candi ratu boko. Bila ditilik, candi ini memang tak semegah candi Borobudur atau secantik Candi Prambanan. Bangunan candi ratu boko ini merupakan hasil pemugaran, dengan batu-batu candi yang terlihat masih baru. Selain itu, candi ini memiliki fungsi tempat tinggal, ditandai dengan adanya atap dan tiang. Adapun bagian candinya, candi ini terbagi dalam 4 bagian yaitu bagian tengah, tenggara, timur dan barat. Bagian tengah candi ini terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Kemudian, bagian tenggaranya Pendopo, tiga candi, kolam, balai serta kompleks Keputren. Dibagian timur terdapat kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam. Sedangkan bagian barat sisanya hanya perbukitan saja.

Sungguh, semua kisah legenda dan catatan sejarah lewat temuan prasasti, serta perubahan dari zaman ke zaman candi ratu boko kian mempertegas bahwa siapapun yang hidup di era sekarang ini sebenarnya sama jauhnya dengan misteri sejarah dibalik keindahan situs Istana Ratu Boko. Namun jauhnya kita dengan misteri sejarah tersebut bukan menjadi alasan untuk kita melupakan candi ratu Boko bukan?. Kita seharusnya peduli dan tidak melupakan kedamaian di candi Ratu Boko. Kedamaian yang muncul dari perbukitan boko yang letaknya tidak terlalu jauh dari kemajuan kehidupan kota yang masih sangat bisa dirasakan hingga kini. Kedamaian itu ada, namun kehidupan kota itu seakan telah membutakan para masyarakat atau wisatawan untuk mengunjungi candi ratu boko. Mungkin karena derasnya arus globalisasi juga, masyarakat seperti mengacuhkan sejarah. Mereka melupakan peninggalan-peninggalan arkeologi. Mereka melupakan candi Ratu Boko yang masih memiliki peran besar sebagai tempat belajar, belajar menghargai kehebatan bagaimana konstruksi material batuan yang besar ini bisa disusun rapi di puncak bukit di masa itu.

Dian Priantoro

Metropolitan yang Hilang Kehidupan Multikulturalisme di Majapahit

Berkat kerajaan adikuasa masa klasik, kita (seharusnya) bisa mendapatkan teladan menghargai hidup rukun bersama beragam budaya dan agama.
majapahit,budaya,multikulturalisme,trowulanBagian poster National Geographic Indonesia edisi September 2012 yang menggambarkan suasana multikulturalisme di Ibu Kota Majapahit (Seni: Sandy Solihin)

“Majapahit dibentuk dalam budaya multikultur,” ungkap Guru Besar bidang arkeologi Hariani Santiko sambil membelai kucing persia kesayangannya sementara kucing-kucing lainnya seolah berlomba mencari perhatian. Meskipun telah pensiun sebagai dosen di Universitas Indonesia, hingga kini dia masih terlibat aktif dalam berbagai penelitian.



Pada masa keemasan dalam takhta Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanagara yang didampingi Mahapatih Gajah Mada, Majapahit telah berhasil dalam menghimpun kerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Meski sang mahapatih hanya mendampingi selama 14 tahun, keberhasilan ini tidak hanya dalam hal politik atau keamanan regional, tetapi juga dalam perdagangan.

Majapahit berkepentingan mengamankan wilayah kerajaan-kerajaan lain karena kerajaan adikuasa itu membutuhkan pasar untuk menjual hasil buminya, sekaligus membutuhkan sumber daya dari kerajaan lain yang berpotensi untuk perdagangan.


“Dengan adanya konsep politik Gajah Mada, maka terjadilah hubungan dagang,” ungkapnya, “sehingga masyarakat Majapahit menjadi multikultur.” Majapahit berkembang menjadi sebuah metropolitan, tempat beragam budaya dan agama bertemu dan membentuk kehidupan kota.


Gambaran ragam budaya yang hidup bersama di Majapahit dituliskan oleh Prapanca dalam Kakawin Nagarakertagama pada 1365, “Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jumbudwipa (India), Kamboja, Cina, Yamana, Campa, dan Goda, serta Saim. Mereka mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta, semua merasa puas, menatap dengan senang.”



Hariani menambahkan, walaupun belum sebagai “poli bangsa” di Kerajaan Majapahit, pendatang asing telah menjadi perhatian Rajasanagara. “Mungkin para pendatang dari berbagai bangsa itu bertempat tinggal di Trowulan,” ungkap Santiko, “Hayam Wuruk mengangkat seorang pejabat yang disebut Juru Kling untuk mengatur para pendatang.”



koin china,majapahit,trowulan,perdaganganKoin Cina dari Sung Selatan sekitar 1237-1240, dikeluarkan pada periode Chia Hsi. Koin ini ditemukan di permukiman kuno Sentonorejo, Trowulan, tatkala para ahli arkeologi melakukan penggalian. Sentonorejo diperkirakan bagian dari Keraton Majapahit.

(Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Misteri Laut Baltik: UFO, Atlantis, Atau...

Jangan-jangan, obyek lingkaran itu sama sekali tak misterius.

Benda misterius berbentuk lingkaran di dasar Laut Baltik

Benda misterius berbentuk lingkaran di dasar Laut Baltik
(Ocean Explorer/Peter Lindberg)


Laut Baltik, perairan di timur laut Benua Eropa, menawarkan daya tarik lain, tak sekedar reputasinya sebagai "kuburan kapal karam" yang jadi incaran para pemburu harta.

Sebuah fitur lingkaran berdiameter 60 kaki atau sekitar 18,26 meter tertangkap sonar terbaring di kedalaman 91,44 meter. Spekulasi berkembang, ada yang menduga itu adalah piring terbang yang tercebur ke laut, meski keberadaan mahluk luar angkasa belum terkonfirmasi hingga saat ini. Yang lain mengira, benda tersebut adalah kapal perang atau fenomena alam.

Kini, obyek misterius itu kembali ramai diberitakan. Liputan media terbaru mengacu pada wawancara berdurasi satu jam dengan Peter Lindberg, ketua Tim Ocean X -- tim gabungan para pemburu harta karun, ilmuwan, dan penyelam, yang sedang berusaha mengungkap tabir misteri obyek tersebut.

Dalam wawancara tersebut Lindberg memberikan pernyataan
"keanehan" dan "misteri" obyek dasar laut yang telah mereka eksplorasi selama setahun.

Linberg juga membahas tentang kemungkinan tentang apa sesungguhnya benda tersebut. "Ada formasi mirip tangga yang aneh, jika benar itu dibangun, pastinya disusun puluhan ribu tahun lalu sebelum Zaman Es," kata dia dalam wawancara radio. Faktanya, menurut catatan sejarah, puncak Zaman Es terjadi sekitar 20.000 tahun lalu.

"Jika itu adalah Atlantis, akan sangat mengagumkan," kata dia merujuk pada kota bawah laut modern yang hilang, yang diungkap Plato dalam bukunya, "Timaeus" dan "Critias".

Namun, Linberg toh mengakui, bisa jadi obyek tersebut adalah formasi alam, seperti meteorit yang jatuh ke pada Zaman Es, atau gunung bawah laut. Tapi, ia menambahkan, sejumlah ilmuwan menepis dugaan itu. Para geolog, kata dia, mengatakan bahwa obyek tersebut bukan gunung.

Ia juga menyebut soal anomali, di lokasi yang letaknya dirahasiakan itu. Dengan nada menyimpan rahasia, Lindberg menyebut, ada banyak yang belum terungkap ke publik. "Kami belum mengungkap semuanya," kata dia. "Kami akan mengungkap beberapa hal menarik dalam film dokumenter."

Deposit Zaman Es

Baru-baru ini para penyelam memberikan sampel batuan yang berasal dari obyek misterius itu pada profesor geologi dari Stockholm University, Volker Brüchert. "Aku sangat terkejut saat meneliti materi itu, saya menemukan batu hitam mengagumkan yang bisa jadi adalah batuan vulkanis," kata dia seperti dimuat sejumlah media Swedia. "Hipotesis saya, obyek tersebut terbentuk di Zaman Es, ribuan tahun yang lalu."

Dengan kata lain, merujuk pada artikel di sejumlah media Swedia, sang ahli seakan mendukung klaim bahwa obyek tersebut tak bisa dijelaskan.

Namun, saat dikroscek situs sains, Life's Little Mysteries, Brüchert, seperti halnya ilmuwan lain tidak melihat suatu hal yang misterius. Ia justru merasa pandangan skeptis dan kritis soal "Misteri Laut Baltik" sangat baik.

Menurut dia, "yang diabaikan oleh tim Ocean-X adalah sebagian besar sampel yang mereka bawa dari dasar laut adalah berupa granit, batu gneiss (kasar berbentuk granit), dan batu pasir," kata dia.

Temuan itu lazim didapat dalam cekungan glasial, seperti halnya di Laut Baltik, wilayah yang tercipta oleh es glasial di masa lalu.



Di sisi lain, penyelam juga memberinya batuan basalt atau bagian beku vulkanik yang tak biasa ditemukan di dasar laut. Diduga, ia terbawa oleh gletser.

Lalu apa yang terjadi dengan hasil pemindaian sonar yang mengerucut pada dugaan obyek itu adalah piring terbang, atau situs menarik semacam yang dibayangkan ada di Kota Atlantis yang Hilang?


Dan ternyata, citra sonar tak sepenuhnya bisa dipercaya. "Citra sonar memuat artefak tak terhitung yang membuatnya sulit ditafsirkan. Saya tidak yakin dengan interpretasi sampai pengolahan yang lebih baik dilakukan, serta tersedia rincian jenis sonar serta informasi penting lainnya," kata Dan Fornari, ahli sonar dari Woods Hole Oceanographic Institution, Massachusetts.


"Saya hanya bisa mengatakan data yang jadi acuan itu kurang dalam hal resolusi, detail, juga kuantitas."Kesimpulan ahli yang menyatakan benda misterius itu adalah deposit glasial yang citranya ditangkap oleh sonar beresolusi rendah belum mendapat tanggapan dari pihak Ocean-X. Mereka masih berharap akan ada banyak dukungan pada ekspedisi yang dilakukan. (LiveScience | umi)

Label: