Rabu, 31 Desember 2014

Masjid Lueng Bata Tempat Nyak Radja Merancang Perang



Masjid ini pernah jadi tempat singgah Sultan Aceh ketika istana direbut Belanda. Di sini pula digelar pelantikan pengganti Sultan Mahmud Syah.

__________________________________________

Di perkarangan kompleks itu tampak beberapa bangunan. Pohon asam jawa rimbun berjejeran di dekat pagar setengah meter warna biru. Di tengah kompleks terlihat bangunan menjulang. Inilah Masjid Jamik Lueng Bata, Banda Aceh. Warga Kota Banda Aceh kerap menyebutnya Masjid Lueng Bata. Letak masjid hanya sepelemparan batu dari Jalan Banda Aceh-Medan.



Pertengahan Agustus lalu, masjid sedang direhab. Ada beberapa dinding bata belum diplester. Beberapa pekerja memasang relief di sudut kanan masjid.




Di utara masjid ada bangunan tua berukuran sekitar 10 x 12 meter. Bangunan ini berdinding setengah permanen. Di atas dinding ditambahkan besi hijau. Atap sengnya sudah kehitaman. Bangunan ini hanya memiliki satu pintu masuk.



Bangunan inilah cikal bakal Masjid Lueng Bata. Gedung ini telah berdiri sekitar tahun 1940. Bisa dikatakan inilah masjid kecamatan pertama di Lueng Bata. Warga menyebut masjid lama itu sebagai “masjid tuha (tua)”.



Pendirinya Teuku Imum Lueng Bata yang juga bernama Teuku Nyak Radja Imum Lueng Bata atau akrab dikenal Teuku Imum Lueng Bata. Ia salah seorang kepercayaan Sultan Aceh.



Ia memimpin Kemukiman Lueng Bata yang kala itu berstatus daerah bibeuh atau bebas. Walaupun Lueng Bata berkategori mukim dan dipimpin uleebalang bernama Teuku Raja, wilayah ini diperintah langsung oleh sultan. Biarpun berbeda dengan sagi XXV mukim, sagi XXVI, dan sagi XXII mukim, kedudukan pimpinannya setara dengan panglima tiga sagi tersebut.


Kepahlawan Imum Lueng Bata bersinggungan dengan Belanda. Sejarah mencatat pada 14 April 1873 Jendral Kohler tewas tertembus timah panah di bawah pohon di depan Masjid Baiturrahman. Desas-desus beredar, Kohler tewas karena ditembak salah satu sniper yang juga pengikut Imum Lueng Bata.


Namun Teuku Nukman, cucu Imum Lueng Bata membantahnya. Menurut Nukman, sang kakeklah yang menembak Kohler. Jarak Kohler dengan Imum Lueng Bata sekitar 100 meter.

Ketika agresi Belanda kedua terhadap Kerajaan Aceh, Sultan, Panglima Polem, dan Teuku Baet menyingkir ke Lueng Bata. Selain menghindari bombardir dari Belanda, kala itu wabah kolera pun sedang berjangkit. Salah satu korban adalah Sultan Mahmud Syah. Ia mangkat pada 29 Januari di Pagar Air atau Pagar Aye, tak jauh dari Lueng Bata. Sultan Mahmud dimakamkan di Cot Bada, Samahani, Aceh Besar. Setelah itu, langsung digantikan posisi sementara sultan oleh Tuwanku Hasyim Bantamuda.


Seharusnya posisi ini dijabat Tuwanku Muhammad Daud Syah yang dinobatkan sebagai sultan di Masjid Indrapuri pada 1878. Namun, Daud Syah dianggap belum cukup umur. Di masjid tuha Lueng Bata itulah, pelantikan Tuwanku Hasyim Bantamuda digelar.


Menurut cerita, masjid tuha merupakan markas dan tempat bermusyawarahnya pasukan Imum Lueng Bata. Masjid lama itu kini tak lagi digunakan untuk salat. “Karena kapasitasnya terlalu kecil untuk masjid kecamatan,” ujar Marzuki, salah satu pengurus masjid.

Bentuk masjid lama menyerupai Masjid Indrapuri dengan kubah satu bersegi empat dan tidak bertingkat. Dindingnya juga tebal sehingga dapat dijadikan benteng apabila sewaktu-waktu terjadi penyerangan dari Belanda.


Namun, bangunan yang tersisa sekarang, menurut Nukman, strukturnya jauh dari asli. “Masjid tersebut sudah beberapa kali dirombak,” ujar Nukman.

Sejak 6 Oktober 1968 ketika dibangun masjid baru, masjid tuha diubah menjadi perpustakaan. Tempat ini tak hanya digunakan anak TPA dan remaja masjid. Ada juga siswa-siswa yang mengunjungi perpustakaan itu setiap harinya. “Bahkan, perpustakaan ini menjadi tempat persinggahan siswa saat pulang sekolah meski kadang tidak masuk, hanya sekadar beristirahat di teras pustaka,” ujar Marzuki.

Tepat di depan perpustakaan, ada empat makam dipagari besi setinggi pinggang. Makam-makam ini keluarga Imum Lueng Bata yang dulu sempat menjadi pengurus masjid setelah Teuku Imum Lueng Bata meninggal. Juga ada makam anaknya yang bernama Teuku A.A. Shamaun bin Teuku Ibarahim bin Teuku Imeum Lueng Bata.



Menurut Marzuki, disebut Masjid Jamik karena bangunan ini terletak di kecamatan. “Jamik itu berarti masjid besar di suatu daerah atau di sebuah kecamatan dan mukim,” ujarnya. Selain berperang melawan Belanda, kata dia, Imum Lueng Bata juga sangat peduli dengan ibadah dan berinisiatif mendirikan masjid agar masyarakat bisa beribadah bersama.


Sayangnya, pembuat masjid itu tak jelas di mana makamnya. Imum Lueng Bata disebut-sebut meninggal dalam pengejaran Belanda. Namun, lokasinya tak diketahui pasti. Dari yang didengar Nukman, Imum Lueng Bata meninggal di kawasan Pidie. “Hanya Allah yang tahu kenapa beliau tidak diketahui makamnya,” ujar Nukman.[]


Ibnu Batuthah dan Negeri Bernama Samudera



Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau Ibnu Batutah adalah seorang pengembara dari Berber, Afrika Utara. Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji - ziarah ke Mekah. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).



Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Semenanjung Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, 'Rihlah' merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.


Sebelum Dinasti Usmaniyah (Ottoman) di Turki berdiri pada 699-1341 H atau bertepatan dengan tahun 1385-1923 M, ternyata nun jauh di belahan dunia sebelah timur tepatnya di wilayah Aceh saat ini telah muncul sebuah kerajaan Islam bernama Samudera Pasai. Keberadaan Kesultanan Samudera Pasai ini diungkapkan Ibnu Batuthah (1304-1368 M), dalam kitabnya yang berjudul “Rihlah ila I-Masyriq” (Pengembaraan ke Timur).


“Sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah...”





Gambaran Ibnu Batutah secara fisual
Begitulah Ibnu Batuthah menggambarkan kekagumannya terhadap keindahan dan kemajuan Kerajaan Samudera Pasai yang sempat disinggahinya selama 15 hari pada 1345 M.


Sementara itu, dalam catatan perjalanan Ibnu Batuthah lainnya yang berjudul “Tuhfat al-Nazha”, ia menuturkan, pada masa itu Samudera Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara.



Jauh sebelum Sang Pengembara Muslim itu menginjakkan kakinya di kerajaan Muslim pertama di nusantara itu, seorang penjelajah asal Venezia (Italia), yang bernama Marco Polo, telah mengunjungi Samudera Pasai pada 1292 M.


Marco Polo bertandang ke Samudera Pasai saat menjadi pemimpin rombongan yang membawa ratu dari Cina ke Persia. Bersama dua ribu orang pengikutnya, Marco Polo singgah dan menetap selama lima bulan di bumi Serambi Makkah itu.



Dalam kisah perjalanan berjudul “Travel of Marco Polo”, pelancong dari Eropa itu juga mengagumi kemajuan yang dicapai Kesultanan Samudera Pasai.


Kesultanan Samudera Pasai terletak di pesisir pantai utara Sumatera kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, sekarang ini. Kesultanan ini didirikan oleh Meurah Silu pada sekitar tahun 1267 M.


Ia adalah keturunan dari Suku Imam Empat atau Sukee Imuem Peuet sebutan untuk keturunan empat maharaja (meurah) bersaudara yang berasal dari Mon Khmer (Champa), yang merupakan pendiri pertama kerajaan-kerajaan di Aceh pra-Islam.


Keempat maharaja tersebut adalah Syahir Po-He-La yang mendirikan Kerajaan Peureulak (Perlak) di Aceh Timur, Syahir Tanwi yang mendirikan Kerajaan Jeumpa (Champa) di Peusangan (Bireuen), Syahir Poli (Pau-Ling) yang mendirikan Kerajaan Sama Indra di Pidie, dan Syahir Nuwi yang mendirikan Kerajaan Indra Purba di Banda Aceh dan Aceh Besar.


Malik As Saleh



Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, disebutkan asal muasal penamaan Kerajaan Samudera Pasai. Syahdan, suatu hari, Meurah Silu melihat seekor semut raksasa yang berukuran sebesar kucing. Meurah yang kala itu belum memeluk Islam menangkap dan memakan semut itu. Dia lalu menamakan tempat itu Samandra.


Tak semua orang percaya kisah yang berbau legenda itu. Sebagian orang meyakini kata Samudera berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti laut. Sedangkan, kata Pasai diyakini berasal dari Parsi: Parsee atau Pase. Pada masa itu, banyak pedagang dan saudagar Muslim dari Persia-India alias Gujarat yang singgah di wilayah Nusantara.


Meurah Silu kemudian memutuskan masuk Islam dan berganti nama menjadi Malik Al-Saleh atau dikenal dengan sebutan Malik As-Saleh. Menurut legenda masyarakat Aceh, suatu hari Meurah Silu bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Setelah itu, ia pun memutuskan masuk Islam.


Malik Al-Saleh mulai menduduki takhta Kesultanan Samudera Pasai pada 1267 M. Di bawah kepemimpinan Malik Al-Saleh, Samudera Pasai mulai berkembang. Ia berkuasa selama 29 tahun dan digantikan oleh Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M).


Namun, ada juga yang menyebutkan, Malik Al-Saleh diangkat menjadi sultan di Kerajaan Samudera Pasai oleh seorang Laksamana Laut dari Mesir bernama Nazimuddin Al-Kamil setelah berhasil menaklukkan Pasai.


Menurut Marco Polo, Malik As-Saleh adalah seorang raja yang kuat dan kaya. Ia menikah dengan putri raja Perlak dan memiliki dua anak. Ketika berkuasa, Malik As-Saleh menerima kunjungan Marco Polo.


Pada masa pemerintahan Malik As-Saleh, Samudera Pasai memiliki kontribusi yang besar dalam pengembangan dan penyebaran Islam di Tanah Air. Samudera Pasai banyak mengirimkan para ulama serta mubaligh untuk menyebarkan agama Islam ke Pulau Jawa.


Selain itu, banyak juga ulama Jawa yang menimba ilmu agama di Pasai. Salah satunya adalah Syekh Yusuf—seorang sufi dan ulama penyebar Islam di Afrika Selatan yang berasal dari Makassar.



Wali Songo merupakan bukti eratnya hubungan antara Samudera Pasai dan perkembangan Islam di Pulau Jawa. Konon, Sunan Kalijaga merupakan menantu Maulana Ishak, salah seorang Sultan Pasai. Selain itu, Sunan Gunung Jati yang menyebarkan Islam di wilayah Cirebon serta Banten ternyata putra daerah Pasai.


Kesultanan Samudera Pasai begitu teguh dalam menerapkan agama Islam. Pemerintahannya bersifat teokrasi (agama) yang berdasarkan ajaran Islam. Tak heran bila kehidupan masyarakatnya juga begitu kental dengan nuansa agama serta kebudayaan Islam.


Sebagai sebuah kerajaan yang berpengaruh, Pasai juga menjalin persahabatan dengan penguasa negara lain, seperti Champa, India, Tiongkok, Majapahit, dan Malaka. Menurut Marco Polo, Sultan Malik As-Saleh sangat menghormati Kubilai Khan, penguasa Mongol di Tiongkok.


Kesultanan Islam Pertama


Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai dan Hikayat Melayu, disebutkan bahwa kemunculan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam diperkirakan dari awal atau pertengahan abad ke-13 M. Ini sebagai hasil dari proses Islamisasi dari daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7 M.


Dugaan atas berdirinya Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M ini didukung oleh data-data hasil penelitian terhadap beberapa sumber yang dilakukan, terutama oleh sarjana-sarjana Barat.







Ibn Battuta and Marco Polo travels maps


Khususnya, para sarjana Belanda sebelum perang, seperti Christian Snouck Hurgronje, JP Moquette, JL Moens, J Hushoff Poll, GP Rouffaer, dan HKJ Cowan. Kedua hikayat tersebut dan para sarjana Barat juga menyebutkan bahwa pendiri Kerajaan Samudera Pasai adalah Sultan Malik As-Saleh.


Akan tetapi, dua buah naskah lokal yang ditemukan di Aceh, yakni “Idah Al-Haqq fi Mamlakat Peureula” karya Abu Ishaq Makarani dan “Tawarikh Raja-Raja Pasai”, mengungkapkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai sudah berdiri pada 433 H/1042 M. Kerajaan yang dikuasai oleh Dinasti Meurah Khair ini terus berlangsung sampai tahun 607 H/1210 M.


Pada tahun ini, Baginda Raja meninggal dunia dan tidak meninggalkan putra. Setelah itu, negeri Samudera Pasai menjadi rebutan antara pembesar-pembesar istana. Keadaan politik yang tidak stabil itu berlangsung kurang lebih 50 tahun. Keadaan baru berubah menjadi lebih baik setelah naiknya Meurah Silu, yang kemudian bergelar Malik As-Saleh.


Hal ini berbeda dengan Hikayat Raja-Raja Pasai yang mengatakan bahwa Meurah Silu pada mulanya beragama Hindu. Ia kemudian masuk Islam melalui Syekh Ismail, seorang utusan Syarif Makkah dan mendapat gelar Sultan Malik As-Saleh.



Sumber ini menyebutkan Meurah Silu berasal dari keturunan Raja Islam Perlak. Pendukung analisis ini berpendapat bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara bukanlah Samudera Pasai, melainkan Kerajaan Perlak.


Dalam catatan perjalanan Ibnu Batuthah, disebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam. Kerajaan itu juga digunakan sebagai tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi tentang masalah-masalah keagamaan dan keduniawian sekaligus.


Kerajaan Samudera Pasai, menurut Ibnu Batuthah, tetap berlangsung hingga tahun 1524. Pada tahun 1521, kerajaan tersebut ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun.


Setelah itu, pada tahun 1524 dan seterusnya, Kerajaan Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. (az/rol)


Ditemukan, Arca Hewan yang Diyakini Sebagai Objek Pemujaan

Dua buah arca berbentuk hewan ditemukan di situs Tel Moza, yang berada tak jauh dari Yerusalem.
hewan,patung,singaIlustrasi (Thinkstockphoto)

Arkeolog menemukan dua patung atau arca kecil berusia 9.500 tahun dalam penggalian di Israel. Demikian dilaporkan Israel Antiquities Authority (IAA), Rabu (29/8).


Tepatnya arca berbentuk hewan ini ditemukan dari situs Tel Moza, yang berada tak jauh dari Yerusalem. Ekskavasi tersebut berlangsung sebelum pelebaran jalan raya utama yang merupakan penghubung antara kota Yerusalem dan Tel Aviv.


Artefak pada masa Neolitikum yang ditemukan salah satunya berupa arca batu kapur mirip biri-biri jantan dengan pahatan dengan bentuk tanduk spiral. Sedangkan arca satunya terbuat dari dolomit dan memiliki bentuk lebih abstrak, seperti sapi liar. Keduanya memiliki panjang sekitar 15 sentimeter.



Para arkeolog yakin kedua arca itu merupakan bagian dari objek pemujaan bagi orang-orang yang membuatnya. Arca ditemukan dekat bekas bangunan bundar kuno, yang berasal dari periode transisi manusia dari kehidupan berburu yang nomaden ke kehidupan bertani dan menetap.


"Berburu merupakan aktivitas utama pada masa itu," ujar salah satu penggali situs, Hamoudi Khalaily, dalam sebuah pernyataan, "Arca ini digunakan sebagai benda pembawa keberuntungan saat berburu, dan sepertinya merupakan semacam fokus dalam upacara yang digelar para pemburu itu sebelum berangkat mencari buruan."

Namun, arkeolog dan penggali Anna Eirikh berpendapat bahwa artefak hewan mungkin pula ada kaitannya dengan proses penjinakan binatang.

(Gloria Samantha. Live Science)


Kisah Para Tahanan Digul

Boven Digul, sebuah wilayah di pedalaman Papua, dulu pernah tersohor sebagai tempat pengasingan para tahanan politik. Pada masa kolonial Belanda (1927-1943), lebih dari 1.000 orang “pemberontak” dipenjarakan disini. Para ekstremis ini kebanyakan berasal dari Jawa dan Sumatera Barat. Memang, ke dua daerah ini merupakan wilayah Hindia-Belanda yang paling sering melakukan perlawanan. Pemberontakan komunis di Banten 1926 dan Silungkang 1927, merupakan perlawanan terbesar bangsa Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pemberontakan ini menimbulkan kepanikan yang hebat di kalangan orang-orang kulit putih. Di Batavia, banyak orang Belanda diliputi rasa cemas. Mereka takut keluar rumah dan lebih memilih untuk mengunci diri. Sejak pemberontakan itu, Belanda telah menangkap sekitar 20.000 orang rakyat Indonesia. Dari jumlah itu, 1.308 orang diasingkan (823 orang ke kamp Digul), dan 16 orang di hukum gantung.

Kamp konsentrasi Digul didirikan oleh Kapten L. Th. Becking pada awal tahun 1927. Kamp ini terletak di hulu Sungai Digul, yang berjarak kira-kira 455 km dari bibir pantai Laut Arafura. Dulu, di-Digul-kan berarti harus menghadapi maut. Hal ini dikarenakan banyaknya nyamuk malaria yang sering menyerang para penghuni kamp. Di samping itu ada pula jenis penyakit mematikan lainnya, yang dikenal sebagai black water fever. Selain dua penyakit tersebut, musuh terbesar para penghuni kamp adalah rasa sepi dan kejenuhan yang luar biasa. Tekanan semacam ini kemudian menimbulkan ketegangan dan gangguan jiwa bagi sebagian interniran.

Setelah Perang Pasifik berkecamuk dan Jepang menginvasi wilayah Hindia-Belanda, kamp Digul segera ditutup. Banyak tahanan yang dibebaskan dan sebagian diungsikan ke Australia. Disana, para mantan Digulis mendirikan Komite Indonesia Merdeka. Di Brisbane, mereka turut mensponsori pemogokan buruh-buruh pelabuhan. Tak hanya itu, mereka juga mensabotase kapal-kapal yang akan mengangkut persenjataan ke Hindia-Belanda. Tak sedikit pula dari mereka yang akhirnya kecantol dan menikah dengan wanita Australia. Diantaranya adalah Mohammad Bondan dan Zakaria.

Penghuni kamp Digul hampir semuanya adalah para aktivis politik. Diantara tokoh-tokoh terkenal yang kelak menjadi pemimpin bangsa adalah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Ada banyak cerita dari para penghuni kamp, yang merupakan sejarah kecil (petite histoire) dalam perjalanan menuju Indonesia merdeka. Antara lain cerita tentang Thomas Nayoan, seorang Minahasa yang selalu berusaha untuk melarikan diri dari kamp tersebut. Dalam buku “Jalan ke Pengasingan” karya John Ingleson, diceritakan bahwa meski usahanya mengalami kegagalan, namun Nayoan tak pernah patah arang. Dalam pelariannya yang ke dua kali, ia sempat tiba di Australia dengan perahu. Namun dikarenakan adanya perjanjian ekstradisi antara Australia dan Hindia-Belanda, ia digelandang dan kembali ke Digul. Karena tahu pelariannya ke selatan tak akan selamat, dalam pelariannya yang ketiga ia nekat masuk hutan Papua. Setelah itu kabarnya tak terdengar lagi. Tak jelas apa sebabnya Thomas Nayoan di-Digul-kan. Memang! ia ikut pemberontakan PKI di Banten. Namun posisinya di dalam partai tersebut tidaklah menentukan. Ia ditangkap oleh opas kolonial di Surabaya pada tanggal 7 Oktober 1926. Setelah itu, tiga bulan ia menjalani hukuman penjara di Manado. Sebelum akhirnya dikirim ke Boven Digul.

Cerita lainnya datang dari Mohammad Bondan, aktivis PNI kelahiran Cirebon tahun 1910. Lewat buku “Spanning a Revolution”, Molly Bondan menceritakan pengalaman suaminya selama berada di kamp konsentrasi Digul. Dalam buku itu dikisahkan bagaimana senangnya Bondan ketika di Digul, bisa berkenalan dan belajar bersama Hatta, Sjahrir, dan para aktivis lainnya. Bondan juga bertutur tentang perlakukan pemerintah kolonial, yang sering mengadu domba antara tahanan yang mau bekerja sama dengan Belanda dan yang tidak. Selain itu dibeberkan pula bagaimana ia dan kawan-kawannya mengurusi kebutuhan sendiri, karena makanan yang didapat dari pemerintah kolonial tidaklah mencukupi.

Kisah lain adalah tentang Ayun Sabiran, yang ditangkap pemerintah kolonial ketika hendak menyelundupkan bahan-bahan kimia ke Padang Panjang. Konon bahan kimia tersebut akan digunakan sebagai bahan peledak untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Sebenarnya Sabiran hanyalah kroco dalam pergerakan kaum muda di Sumatera Barat. Namun keberaniannya menyamar sebagai seorang Katolik dan menyelundupkan bahan-bahan kimia dari Batavia, membuat pemerintah Hindia-Belanda memasukkan namanya ke dalam daftar pemberontak yang harus di-Digul-kan. Beruntung bagi dirinya, di Digul ia berkenalan dengan Salihun, seorang aktivis asal Banten. Disana ia dinikahkan dengan Yumenah, yang juga merupakan putri Salihun. Setelah menjalani masa hukuman selama enam tahun (1927-1933), Sabiran dibebaskan. Kemudian ia menjalani kehidupan normalnya di Jakarta, dengan berdagang dan mengelola studio foto. Kisah tentang Ayun Sabiran ini diceritakan oleh putra pertamanya Misbach Yusa Biran, dalam bukunya “Kenang-kenangan Orang Bandel.”

Diantara para tahanan Digul, Chalid Salim merupakan salah seorang yang paling lama menghuni kamp tersebut. Terhitung hingga tahun 1943, ia telah menghuni Boven Digul selama 15 tahun. Chalid merupakan adik kandung Haji Agus Salim. Karakternya setali tiga uang dengan sang kakak : berhati keras, kokoh, dan tak mau membungkuk. Namun begitu, ideologi mereka bertolak belakang. Sang kakak memilih ideologi Islam dalam perjuangannya, sedangkan si adik melewati jalur komunis. Chalid ditangkap dalam kapasitasnya sebagai wartawan. Tulisan-tulisannya kerap kali memerahkan kuping para penguasa. Dalam sebuah harian terbitan Medan : Pewarta Deli, Chalid menyerang kebijakan pemerintah yang menerapkan poenale sanctie. Bukan didengarkan, kritiknya itu malah berujung penangkapan atas dirinya. Ia dipenjarakan selama satu tahun di Medan, sebelum akhirnya dikirim ke Digul. Kisah Chalid Salim selama di Boven Digul, diceritakannya secara tuntas dalam buku yang bertajuk “Vijftien Jaar Boven-Digoel Concentratiekamp op Nieuw-Guinea Bakermat van de Indonesische Onafhankelijkheid (terjemahan: Lima Belas Tahun Digul, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea, Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia).”

Satu lagi wartawan yang dibuang ke Digul adalah Marco Kartodikromo. Seperti halnya Chalid Salim, Marco merupakan wartawan berhaluan kiri. Akibat tulisannya di media massa, ia berulang kali keluar masuk penjara. Marco pertama kali masuk bui pada tahun 1915, atas tuduhan persdelicten (pelanggaran etika pers). Setelah keluar penjara Semarang, setahun kemudian ia masuk penjara Weltevreden, akibat menyebarkan selebaran yang menebar kebencian kepada pemerintah. Dua kali masuk penjara, tak membuatnya bungkam untuk mengkritik kolonialisme. Tahun 1924, ia bergabung dengan organisasi Sarekat Islam, dan turut melakukan Pemberontakan Banten 1926. Setahun kemudian ia diciduk pemerintah kolonial dan dibuang ke Boven Digul. Disana ia menemui ajalnya, setelah terkena penyakit TBC. Marco wafat pada tanggal 18 Maret 1932, dan jasadnya dikebumikan di pekuburan ujung kampung B.

Afandri Adya

Candi Ratu Boko: Misteri yang Terlupakan

“Eh… liburan ini ke candi prambanan yuk!”

“Boleh, boleh… Sekalian aja ke candi ratu boko ya”

“Candi ratu boko? Emang dimana ? Aku baru denger ada candi yang namanya candi ratu boko”

“ Ah.. kamu ini, itu lho yang sebelah selatan candi prambanan!!”

Itulah mungkin kutipan percakapan yang membuktikan bahwa memang dewasa ini masyarakat pada umumnya kurang mengenal tentang candi ratu boko. Mereka seakan melupakan bangunan istana peninggalan kerajaan mataram kuno itu. Candi ratu boko mungkin kalah “tersohor” daripada candi Prambanan ataupun candi Borobudur. Padahal letaknya tidak jauh dari candi prambanan, yaitu sekitar 3 kilometer kearah selatan candi prambanan. Tepatnya di kecamatan Bokoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Serkilas tentang sejarahnya, candi Ratu Boko, yang juga peninggalan kerajaan mataram kuno ini bermula dari seorang belanda bernama H.J. DeGraff pada abad ke 17. Ia mencatat bahwa orang-orang Eropa yang datang ke Jawa telah melaporkan keberadaan tempat peninggalan sejarah purbakala. Mereka menerangkan bahwa telah ditemukan reruntuhan bangunan istana di Bokoharjo, yang konon istana Prabu Boko, seorang Raja berasal dari Bali. Sedangkan kisah lain yaitu kisah prabu boko yang berkembang sebagai cerita rakyat kuno tanah jawa juga menyebutkan telah ditemukannya reruntuhan bangunan istana pada jaman masuknya agama hindu persis ditempat yang dicatat oleh seorang Belanda tersebut. Namun, kutipan kisah Mas Ngabehi Purbawidjaja dalam Serat Babad Kadhiri mungkin yang lebih jelas menggambarkan keberadaan candi Ratu Boko yang dipenuhi pesona mistis didalamnya. Adapun kutipannya sebagai berikut :

Alkisah pada suatu ketika, bertahtalah seorang Raja yang bernama Prabu Dewatasari di Kraton Prambanan, namun banyak diantara rakyatnya yang menyebut juga bahwa Raja Prambanan adalah Prabu Boko, seorang Raja yang ditakuti karena konon menurut cerita, Prabu Boko gemar makan daging manusia. Dan ternyata, sesungguhnya Prabu Boko adalah seorang perempuan, yaitu permaisuri Raja Prambanan yang bernama asli Prabu Prawatasari. Prabu Boko adalah perempuan titisan raksasa yang bernama Buto Nyai, meskipun begitu, kecantikannya tidak ada yang menandingi di wilayah Jawa Tengah kala itu. Dan karena postur badannya yang tinggi melebihi rata-rata tinggi orang dewasa di masa itu, maka dia juga mendapat nama alias atau julukan Roro Jonggrang. Setelah melahirkan putranya, Prabu Boko mempunyai kebiasaan memakan daging manusia. Dan karena perbuatannya tersebut, sang Raja Prabu Dewatasari murka dan mengusir permaisurinya meninggalkan istana. Kepergian sang permaisuri meninggalkan luka bagi Raja dan putranya yang masih bayi. Akhirnya dibuatlah patung dari batu yang menyerupai istrinya yang kini dikenal dengan Roro Jonggrang.

Setelah mengulik sejarahnya, tak afdol rasanya bila kita tidak mengulas tentang bentuk candi ratu boko. Bila ditilik, candi ini memang tak semegah candi Borobudur atau secantik Candi Prambanan. Bangunan candi ratu boko ini merupakan hasil pemugaran, dengan batu-batu candi yang terlihat masih baru. Selain itu, candi ini memiliki fungsi tempat tinggal, ditandai dengan adanya atap dan tiang. Adapun bagian candinya, candi ini terbagi dalam 4 bagian yaitu bagian tengah, tenggara, timur dan barat. Bagian tengah candi ini terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Kemudian, bagian tenggaranya Pendopo, tiga candi, kolam, balai serta kompleks Keputren. Dibagian timur terdapat kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam. Sedangkan bagian barat sisanya hanya perbukitan saja.

Sungguh, semua kisah legenda dan catatan sejarah lewat temuan prasasti, serta perubahan dari zaman ke zaman candi ratu boko kian mempertegas bahwa siapapun yang hidup di era sekarang ini sebenarnya sama jauhnya dengan misteri sejarah dibalik keindahan situs Istana Ratu Boko. Namun jauhnya kita dengan misteri sejarah tersebut bukan menjadi alasan untuk kita melupakan candi ratu Boko bukan?. Kita seharusnya peduli dan tidak melupakan kedamaian di candi Ratu Boko. Kedamaian yang muncul dari perbukitan boko yang letaknya tidak terlalu jauh dari kemajuan kehidupan kota yang masih sangat bisa dirasakan hingga kini. Kedamaian itu ada, namun kehidupan kota itu seakan telah membutakan para masyarakat atau wisatawan untuk mengunjungi candi ratu boko. Mungkin karena derasnya arus globalisasi juga, masyarakat seperti mengacuhkan sejarah. Mereka melupakan peninggalan-peninggalan arkeologi. Mereka melupakan candi Ratu Boko yang masih memiliki peran besar sebagai tempat belajar, belajar menghargai kehebatan bagaimana konstruksi material batuan yang besar ini bisa disusun rapi di puncak bukit di masa itu.

Dian Priantoro

Metropolitan yang Hilang Kehidupan Multikulturalisme di Majapahit

Berkat kerajaan adikuasa masa klasik, kita (seharusnya) bisa mendapatkan teladan menghargai hidup rukun bersama beragam budaya dan agama.
majapahit,budaya,multikulturalisme,trowulanBagian poster National Geographic Indonesia edisi September 2012 yang menggambarkan suasana multikulturalisme di Ibu Kota Majapahit (Seni: Sandy Solihin)

“Majapahit dibentuk dalam budaya multikultur,” ungkap Guru Besar bidang arkeologi Hariani Santiko sambil membelai kucing persia kesayangannya sementara kucing-kucing lainnya seolah berlomba mencari perhatian. Meskipun telah pensiun sebagai dosen di Universitas Indonesia, hingga kini dia masih terlibat aktif dalam berbagai penelitian.



Pada masa keemasan dalam takhta Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanagara yang didampingi Mahapatih Gajah Mada, Majapahit telah berhasil dalam menghimpun kerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Meski sang mahapatih hanya mendampingi selama 14 tahun, keberhasilan ini tidak hanya dalam hal politik atau keamanan regional, tetapi juga dalam perdagangan.

Majapahit berkepentingan mengamankan wilayah kerajaan-kerajaan lain karena kerajaan adikuasa itu membutuhkan pasar untuk menjual hasil buminya, sekaligus membutuhkan sumber daya dari kerajaan lain yang berpotensi untuk perdagangan.


“Dengan adanya konsep politik Gajah Mada, maka terjadilah hubungan dagang,” ungkapnya, “sehingga masyarakat Majapahit menjadi multikultur.” Majapahit berkembang menjadi sebuah metropolitan, tempat beragam budaya dan agama bertemu dan membentuk kehidupan kota.


Gambaran ragam budaya yang hidup bersama di Majapahit dituliskan oleh Prapanca dalam Kakawin Nagarakertagama pada 1365, “Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jumbudwipa (India), Kamboja, Cina, Yamana, Campa, dan Goda, serta Saim. Mereka mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta, semua merasa puas, menatap dengan senang.”



Hariani menambahkan, walaupun belum sebagai “poli bangsa” di Kerajaan Majapahit, pendatang asing telah menjadi perhatian Rajasanagara. “Mungkin para pendatang dari berbagai bangsa itu bertempat tinggal di Trowulan,” ungkap Santiko, “Hayam Wuruk mengangkat seorang pejabat yang disebut Juru Kling untuk mengatur para pendatang.”



koin china,majapahit,trowulan,perdaganganKoin Cina dari Sung Selatan sekitar 1237-1240, dikeluarkan pada periode Chia Hsi. Koin ini ditemukan di permukiman kuno Sentonorejo, Trowulan, tatkala para ahli arkeologi melakukan penggalian. Sentonorejo diperkirakan bagian dari Keraton Majapahit.

(Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Misteri Laut Baltik: UFO, Atlantis, Atau...

Jangan-jangan, obyek lingkaran itu sama sekali tak misterius.

Benda misterius berbentuk lingkaran di dasar Laut Baltik

Benda misterius berbentuk lingkaran di dasar Laut Baltik
(Ocean Explorer/Peter Lindberg)


Laut Baltik, perairan di timur laut Benua Eropa, menawarkan daya tarik lain, tak sekedar reputasinya sebagai "kuburan kapal karam" yang jadi incaran para pemburu harta.

Sebuah fitur lingkaran berdiameter 60 kaki atau sekitar 18,26 meter tertangkap sonar terbaring di kedalaman 91,44 meter. Spekulasi berkembang, ada yang menduga itu adalah piring terbang yang tercebur ke laut, meski keberadaan mahluk luar angkasa belum terkonfirmasi hingga saat ini. Yang lain mengira, benda tersebut adalah kapal perang atau fenomena alam.

Kini, obyek misterius itu kembali ramai diberitakan. Liputan media terbaru mengacu pada wawancara berdurasi satu jam dengan Peter Lindberg, ketua Tim Ocean X -- tim gabungan para pemburu harta karun, ilmuwan, dan penyelam, yang sedang berusaha mengungkap tabir misteri obyek tersebut.

Dalam wawancara tersebut Lindberg memberikan pernyataan
"keanehan" dan "misteri" obyek dasar laut yang telah mereka eksplorasi selama setahun.

Linberg juga membahas tentang kemungkinan tentang apa sesungguhnya benda tersebut. "Ada formasi mirip tangga yang aneh, jika benar itu dibangun, pastinya disusun puluhan ribu tahun lalu sebelum Zaman Es," kata dia dalam wawancara radio. Faktanya, menurut catatan sejarah, puncak Zaman Es terjadi sekitar 20.000 tahun lalu.

"Jika itu adalah Atlantis, akan sangat mengagumkan," kata dia merujuk pada kota bawah laut modern yang hilang, yang diungkap Plato dalam bukunya, "Timaeus" dan "Critias".

Namun, Linberg toh mengakui, bisa jadi obyek tersebut adalah formasi alam, seperti meteorit yang jatuh ke pada Zaman Es, atau gunung bawah laut. Tapi, ia menambahkan, sejumlah ilmuwan menepis dugaan itu. Para geolog, kata dia, mengatakan bahwa obyek tersebut bukan gunung.

Ia juga menyebut soal anomali, di lokasi yang letaknya dirahasiakan itu. Dengan nada menyimpan rahasia, Lindberg menyebut, ada banyak yang belum terungkap ke publik. "Kami belum mengungkap semuanya," kata dia. "Kami akan mengungkap beberapa hal menarik dalam film dokumenter."

Deposit Zaman Es

Baru-baru ini para penyelam memberikan sampel batuan yang berasal dari obyek misterius itu pada profesor geologi dari Stockholm University, Volker Brüchert. "Aku sangat terkejut saat meneliti materi itu, saya menemukan batu hitam mengagumkan yang bisa jadi adalah batuan vulkanis," kata dia seperti dimuat sejumlah media Swedia. "Hipotesis saya, obyek tersebut terbentuk di Zaman Es, ribuan tahun yang lalu."

Dengan kata lain, merujuk pada artikel di sejumlah media Swedia, sang ahli seakan mendukung klaim bahwa obyek tersebut tak bisa dijelaskan.

Namun, saat dikroscek situs sains, Life's Little Mysteries, Brüchert, seperti halnya ilmuwan lain tidak melihat suatu hal yang misterius. Ia justru merasa pandangan skeptis dan kritis soal "Misteri Laut Baltik" sangat baik.

Menurut dia, "yang diabaikan oleh tim Ocean-X adalah sebagian besar sampel yang mereka bawa dari dasar laut adalah berupa granit, batu gneiss (kasar berbentuk granit), dan batu pasir," kata dia.

Temuan itu lazim didapat dalam cekungan glasial, seperti halnya di Laut Baltik, wilayah yang tercipta oleh es glasial di masa lalu.



Di sisi lain, penyelam juga memberinya batuan basalt atau bagian beku vulkanik yang tak biasa ditemukan di dasar laut. Diduga, ia terbawa oleh gletser.

Lalu apa yang terjadi dengan hasil pemindaian sonar yang mengerucut pada dugaan obyek itu adalah piring terbang, atau situs menarik semacam yang dibayangkan ada di Kota Atlantis yang Hilang?


Dan ternyata, citra sonar tak sepenuhnya bisa dipercaya. "Citra sonar memuat artefak tak terhitung yang membuatnya sulit ditafsirkan. Saya tidak yakin dengan interpretasi sampai pengolahan yang lebih baik dilakukan, serta tersedia rincian jenis sonar serta informasi penting lainnya," kata Dan Fornari, ahli sonar dari Woods Hole Oceanographic Institution, Massachusetts.


"Saya hanya bisa mengatakan data yang jadi acuan itu kurang dalam hal resolusi, detail, juga kuantitas."Kesimpulan ahli yang menyatakan benda misterius itu adalah deposit glasial yang citranya ditangkap oleh sonar beresolusi rendah belum mendapat tanggapan dari pihak Ocean-X. Mereka masih berharap akan ada banyak dukungan pada ekspedisi yang dilakukan. (LiveScience | umi)

Label:

Latar Belakang Pemisahan Beberapa Murid Tertua Dari Persaudaraan Setia Hati (SH) Winongo Madiun.

Persaudaraan Setia Hati didirikan oleh Ki Ngabehi Soerodiwirjo pada th.1903 dikota Surabaya, setelah beliau pulang dari perantauannya menuntut ilmu ke Jawa Barat, Bengkulu, Sumatra Barat dan Aceh.
Semula namanya bukan Setia Hati akan tetapi ‘Sedulur Tunggal Kecer’ dengan permainan pencaknya dinamakan ‘Joyo Gendilo Cipto Mulyo’. Tentang riwayat lengkap pendiri telah kami ceriterakan pada buku peringatan yang lain.

a. Pada Th.1914 beliau mendapat surat dari saudara ‘Tunggal Kecer’ di Surabaya untuk dicarikan kerja pada Jawatan Kereta Api di Kalimas ( Mulai th.1912 beliau berada di Tegal ). Kerja setahun di Kalimas Surabaya, beliau dipindahkan kerja di Madiun yaitu di Bengkel Kereta Api Madiun.
Dikota Madiun ini Ki Ngabehi Soerodiwiryo tidak tinggal diam, beliau mengajar pencak silat dengan nama sama ‘sedulur tunggal kecer’.
b. Pada Th.1917 Saudara saudara pegawai KA dari bengkel KA dan pegawai Topografi Madiun juga minta pelajaran ‘pencak silat’ dan atas kesepakatan bersama seluruh kadang STK beliau mengganti nama persaudaraan menjadi Persaudaraan Setia Hati.
Setelah perubahan nama ini Persaudaan dikenal dengan nama SH Winongo disebabkan Ki Ngabehi Soerodiwirjo bertempat tinggal didesa Winongo Madiun.

Persaudaraan Setia Hati ( SH Winongo ) memang mendapatkan hati di masyarakat waktu itu, namun kurang dapat berkembang.
Ini semua disebabkan karena persaudaraan bersifat ‘paguyuban’ yang terlihat di SH Winongo, jadi bukan merupakan ‘organisasi persaudaraan’. Juga didalam Persaudaraan SH Winongo dikehendaki ‘Sang Juru Kecer Tunggal’ yang melaksanakan tugas pengeceran para warga baru.
Ki Ngabehi Soerodiwiryo merupakan ‘Central Figur’ dari SH Winongo, sedangkan pada saat itu telah ada beberapa siswa tertua yang telah menerima ‘Ilmu Setia Hati’ sampai dengan tataran 3e trap (tingkat-3).
Dan yang terutama lagi didalam kenyataan para saudara yang berlatih di SH Winongo waktu itu hanya terdiri dari para bangsawan dan para Pangreh Projo (pegawai pemerintah pada jamannya), sehingga rakyat jelata yang kurang mampu sukar dapat menjadi warga dari SH Winongo.

Beberapa saudara tertua dari SH Winongo yang sudah menamatkan pelajarannya dari Ki Ngabehi Soerodiwirjo, antara lain Bapak Moenandar Hardjowijoto dari Ngrambe Ngawi dan Bapak Hardjo Oetomo dari desa Pilangbango Madiun.

Beliau-beliau tersebut mempunyai pandangan yang lain tentang arti persaudaraan didalam masyarakat, dimana beliau beliau tersebut mempunyai ‘jiwa kebangsaan’ dan rasa patriotisme yang tinggi terhadap penderitaan rakyat ditengah tengah penindasan dan kesewenang wenangan penjajah Belanda saat itu.

Jiwa Patriotisme yang tinggi ini ditunjukkan Bpk.Hardjo Oetomo dengan bantuan teman temannya dari desa Pilangbango Madiun, dengan penuh rasa keberanian menghadang rangkaian kereta api yang lewat membawa tentara Belanda ataupun mengangkut perbekalan militer Belanda dari satu kota kekota lain.
Rangkaian Kereta Api itu dilempari dengan batu batu besar yang mengakibatkan kerusakan dan kepanikan dari pihak penjajah Belanda waktu itu. Kejadian tersebut berulang ulang terjadi sampai akhirnya Bapak Hardjo Oetomo tertangkap PID Belanda dan mendapatkan vonis hukuman kurungan di penjara Cipinang Jakarta selama 8 tahun.

Jiwa Patriotis yang lain juga ditunjukkan Bapak Moenandar Hardjowiyoto dari desa Ngrambe yang mana beliau merasa tidak puas terhadap cara Ki Ngabehi Soerodiwirjo menegakkan aturan persaudaraan di kalangan warga SH Winongo, dimana anggota terbanyak yang bisa masuk sebagai warga hanya dari kalangan ningrat dan pegawai pangreh projo saja.

Klimak dari rasa ketidak puasan ini diperlihatkan sewaktu Ki Ngabehi Soerodiwirjo melatih Sinyo Belanda dan sudah sampai jurus ke-20 tingkat-1. Oleh Ki Ngabehi Soerodiwirjo menyuruh Bapak Moenandar untuk menemani ‘sambung persaudaraan’ dan ternyata oleh Bpk Moenandar, Sinyo Belanda itu dihajar sampai pingsan sehingga menimbulkan kemarahan yang amat sangat dari Ki Ngabehi Soerodiwirjo.

c. Tahun 1932 Bapak Moenandar Hardjowijoto beserta beberapa saudara dari SH memohon idzin ( palilah ) dari Ouweheer Ki Ngabehi Soerodiwirjo untuk mendirikan Persaudaraan Setia Hati yang menggunakan Organisasi sebagai sarana mengatur rumah-tangga, yang pada dasarnya Ki Ngabehi Soerodiwirjo nglegani mengijinkan nya , beliau berjanji akan datang pada Pertemuan –1 Saudara Warga Setya Hati ( SH ) tanggal22 Mei 1932 di Semarang.

Beliau tidak dapat datang pada ‘musyawarah’ di Semarang pada waktu itu karena pergi ke Surabaya dan menimbulkan kekecewaan para saudara SH yang datang, akhirnya diputuskan secara aklamasi dalam musyawarah, berdirinya Pengurus Besar Setia Hati Organisasi ( SHO ) dan Bapak Moenandar Hardjowijoto sebagai ‘Ketua’ nya, dengan tidak berminat mengganggu SH Winongo dibawah kepemimpinan Ki Ngabehi Soerodiwirjo, dengan kata lain ‘berpisah tetapi satu tujuan’.

Dan di dalam kenyataannnya Bpk. Moenandar Hardjowijoto memang sudah di- ijinkan dan di restui Ki Ngabehi Soerodiwirjo untuk berdiri sendiri menjadi Juru Kecer dan memisahkan diri dari SH Winongo.

Komnas Setia hati

Selasa, 30 Desember 2014

Storage NetApp Bantu CERN Temukan "Partikel Tuhan"

"Informasi yang dicari ada dalam lautan daya, seperti jarum di jerami"

Kantor pusat NetApp
Kantor pusat NetApp (summerseas.com)
Kerja keras ribuan ilmuwan Center for Nuclear Research (CERN) di Jenewa, Swiss terbayar pada Rabu 4 Juli 2012 lalu. Saat partikel baru yang 99,999% konsisten dengan apa yang selama ini mereka cari: Higgs Boson atau "partikel Tuhan", yang diyakini bisa menyibak rahasia jagat raya.

Proses pencarian partikel itu sama sekali tak mudah. Sebuah penelitian kolosal yang melibatkan 3.000 ilmuwan dari 40 negara itu harus mengumpulkan data yang luar biasa besar dari triliunan tubrukan proton yang terjadi di empat titik Large Hadron Collider (LHC) milik CERN, akselelator paling hebat sejagat.

Dalam proses itulah, Agile Data Infrastructure, seperti pondasi storage NetApp, berperan. Yakni, meningkatkan kemampuan CERN untuk pengelolaan pencarian dan data yang lebih efektif (intelligent), mencapai operasional tanpa gangguan (immortal), dan berkembang tanpa batas untuk memenuhi kebutuhan riset partikel berkelanjutan (infinite).

“Informasi yang kami cari berada dalam lautan daya yang setara dengan mencari sebuah jarum di dalam 20 juta jerami," kata  Tony Cass, Databases Services Group Leader, IT department, CERN, dalam rilis yang diterima VIVAnews, Jumat 28 September 2012.

Dia menambahkan, untuk itulah diperlukan sebuah infrastruktur IT yang bisa menyimpan dan mengelola jumlah data yang luar biasa dan bisa diakses kapan saja. "Database Oracle yang berjalan di atas storage NetApp adalah elemen penting dari infrastruktur ini," tambah Tony Cass.

Lantas, bagaimana Storage NetApp membantu kerja CERN?

CERN memanfaatkan teknologi NetApp sejak tahun 2006. Untuk diketahui, percobaan di LHC menciptakan 600 juta tubrukan per detik, dengan jumlah data mentah sebesar 1 juta GB/detik. Jumlah data yang besar ini harus didistribusikan ke para peneliti untuk dianalisa di 140 pusat komputasi di 35 negara berbeda.

Selain NetApp, CERN memanfaatkan Database Oracle sebagai pendukung LHC dan bergantung pada NetApp untuk menyimpan data di Database Oracle, salah satunya memiliki 4,1 triliun baris data. Data operasional ini bisa mencapai lebih dari 50TB per tahun dan diandalkan para peneliti untuk menyimpan berbagai catatan pengukuran dan instrumentasi yang diperlukan untuk kalibrasi pengujian.

CERN juga menggunakan teknologi NetApp Flash Cache untuk meningkatkan kinerja keseluruhan dan mengurangi besarnya data center hingga setengahnya. Hasilnya, CERN mampu meningkatkan efisiensi keseluruhan dan secara efektif mengelola operasional TI-nya dengan sumber-sumber dayanya.

"Pekerjaan CERN sangat membuat kagum. Maksud saya, riset yang mereka lakukan menjawab banyak pertanyaan tentang jagat raya dan hampir mustahil untuk dimengerti. CERN sangat bersandar pada teknologi untuk membantu riset mereka, sehingga mereka merupakan contoh yang sempurna untuk bagaimana pentingnya membangun infrastruktur TI yang tepat. NetApp sangat senang bisa menyediakan pondasi storage yang membantu CERN mempercepat penemuan ilmiah," ungkap Dave Hitz, Cofounder dan Executive Vice President, NetApp. (umi)

Meurah Pupok

Menjelang berakhir abad ke-16, fajar kegemilangan Kerajaan Aceh mulai bersinar. Pada tahun 1607, Iskandar Muda diangkat menjadi Sultan Aceh. Iskandar Muda adalah cucu Sultan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukamil (1588-1604). Dari hasil perkawinannya dengan putri raja Lingga, Iskandar Muda memiliki  seorang anak laki-laki yang bernama Meurah Pupok.

Dalam karya-karya penulis asing dan Indonesia tentang sejarah Aceh disebutkan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan sultan yang paling besar dan masyhur dalam deretan nama-nama sultan yang memerintah di Kerajaan Aceh. Di bawah pemerintahan sultan ini, Kerajaan Aceh dapat mencapai puncak kejayaannya dalam bidang hukum, politik, kemiliteran, ekonomi, agama, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya.

Dalam Bustanus Salatin karya Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa Sultan Iskandar Muda sangat giat mengembangkan agama Islam di Kerajaan Aceh. Di setiap daerah diperintahkan mendirikan masjid sebagai tempat ibadah.  Selanjutnya, Bustanus Salatin juga memberikan gambaran  bahwa sultan adalah seorang yang shaleh dan taat menganut agama Islam. Ia selalu menganjurkan kepada rakyatnya supaya memeluk dan melaksanakan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh dan sempurna.

Bermacam peraturan dikeluarkan untuk mencegah orang melanggar ajaran agama, seperti melarang orang berjudi dan minum-minuman keras. Selain itu, Iskandar Muda juga disebut sebagai sultan yang sangat pemurah. Setiap kali pergi melaksanakan shalat Jumat, ia tidak lupa membawa bermacam hadiah dan sedekah untuk diberikan kepada fakir miskin. Selain itu, Sultan Iskandar Muda juga berhasil membuat ketetapan-ketetapan tentang tata cara yang berlaku di Kerajaan Aceh dan mengenai penggunaan cap siekureueng atau stempel halilintar. Kumpulan ketetapan itu kemudian disebut dengan nama Adat Meukuta Alam.

Dengan demikian, budaya Aceh merupakan aspek peradaban yang tidak identik dalam pemahaman budaya pada umumnya, karena segmen-segmen integritas bangunan budaya juga bersumber dari nilai-nilai agama atau syariat yang menjiwai kreasi budayanya.  Roh Islami itu telah menjiwai dan menghidupkan budaya Aceh, sehingga melahirkan nilai-nilai filosofis yang akhirnya menjadi patron landasan budaya ideal dalam bentuk hadih maja, “Adat Bak Po Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala, Qanun Bak Putroe Phang, Reusam Bak Lakseumana”. Po Teumeureuhom, lambang pemegang kekuasaan. Syiah Kuala, lambang hukum syariat atau agama dari ulama. Qanun, perundang-undangan yang benilai agama dan adat. Reusam merupakan tatanan protokuler atau seremonial adat istiadat dari ahli-ahli atau pemangku adat. Pengembangan nilai-nilai tatanan tersebut mengacu kepada sumber asas, yaitu “Hukum ngon adat, lagee zat ngon sifeut.”

Suatu peristiwa yang mengharukan dan menggetarkan setiap jiwa, ketika Sultan Iskandar Muda mengeksekusi mati anaknya sendiri (Meurah Pupok) sesuai dengan vonis pengadilan. Semua pembesar kerajaan pada waktu itu terdiam, karena tidak berani membantah keputusan sultan. Menteri kehakiman yang bergelar Sri Raja Panglima Wazir berusaha membujuk, tetapi sultan tetap pada keputusannya. Sultan sendiri dengan tegas mengatakan apabila tidak ada seorang pun yang mau melakukan hukuman ini maka ia sendiri yang akan melakukannya. Sultan Iskandar Muda mengatakan, “Aku akan menerapkan hukum kepada Putra Mahkota yang seberat-beratnya. Dengan tanganku sendiri akan kupenggal leher putraku karena telah melanggar hukum dan adat negeri ini.” Dari peristiwa inilah muncul ungkapan masyhur, “Mate aneuk mupat jeurat, gadoh adat pat tamita (mati anak jelas kuburannya, hilang adat (hukom) ke mana hendak dicari’).” Maksudnya,  begutu pentingnya  menegakkan hukum yang adil, tanpa tebang pilih.

Perilaku adil
Sebagai masyarakat muslim, orang Aceh selalu mengaitkan keadilan dengan ajaran Islam yang mereka yakini. Menurut ajaran Islam, keadilan atau bersikap dan berbuat adil, sejauhmana seseorang mampu menerapkan semua nilai dan norma-norma yang ada dalam ajaran wahyu atau konsistensi seseorang dengan nilai wahyu dalam kehidupannya sehari-hari. Wahyu merupakan sumber kebenaran yang mutlak, keadilan yang diartikan di dalamnya merupakan keadilan yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu, konsep keadilan yang dijalankan oleh sultan Aceh tersebut tidak terlepas dari pengaruh nilai agama yang  menganjurkan manusia berbuat adil. Untuk itu, muncul ungkapan dalam masyarakat Aceh, “Raja ade raja disembah, raja lalem raja disanggah (Raja adil raja disembah, raja zalim raja dibantah).”

Dalam perkembangan masyarakat, keadilan memang bukan tujuan akhir, tetapi keadilan menjamin bahwa tujuan akan lebih mudah dicapai. Tujuan akhir yang hanya dapat dicapai melalui keadilan tersebut adalah kesejahteraan rakyat. Tanpa keadilan, kesejahteraan hanya dinikmati oleh sekelompok orang. Untuk itu, para sultan yang memerintah di Aceh memahatkan kata adil pada mata uang yang dikeluarkannya sebagai “pengingat” bagi setiap orang untuk   berbuat adil terhadap diri sendiri dan orang lain. Apalagi seorang raja terhadap rakyat yang dipimpinnya.

Kecuali dari kitab suci Alquran, belum dapat ditelusuri dari kitab mana sultan-sultan kesultanan Aceh mengambil ungkapan as-sultan al-adil untuk dicantumkan pada mata uang yang mereka keluarkan. Namun, dapat diduga bahwa sultan Aceh mendasarkannya pada Alquran Surat An-Nahl: 90 yang terjemahannya sebagai berikut, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang berbuat keji, kemungkaran, dan kedurhakaan. Dia memberi pelajaran kepada mu agar kamu mengerti.”   

Ayat tersebut seperti yang didasarkan pada bukti kutipan yang termaktub dalam kitab Taj-al-Salatin atau Taju-as-Salatin, yaitu kitab Mahkota Segala Raja yang dikarang oleh Bukhari al Jauhari. Kitab tersebut berisi pedoman cara mengendalikan pemerintahan berdasarkan ajaran Islam yang tersebar di kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara. Sebagian ayat yang dikutib dari fasal ke-6 Taju-as-Salatin, yaitu “Innallaha yakmurukum bil adli wal ihsan (sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan).”

Sultan yang memerintah di Aceh menyadari bahwa jabatan adalah amanah yang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan umat, di antaranya melalui perilaku adil. Para sultan yang memerintah di Aceh pada masa lalu begitu peka terhadap keadilan tersebut, jangan sampai  karena ketidakadilan, orang saling membunuh dan perampasan hak orang lain secara tidak sah. Hal itu seperti yang dicontohkan oleh Sultan Iskandar Muda, yang telah menghukum anaknya sendiri karena dianggap telah berbuat kesalahan. Oleh karena itu, ketika mendengarkan kata adil, orang Aceh selalu teringat dan merindukan masa lalunya, suatu masa yang katanya pernah mengantarkan masyarakatnya ke puncak kejayaan dalam segala bidang, terutama dalam menegakkan keadilan dan kepastian hukum dengan sungguh-sungguh, yaitu pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Sudirman
Penulis adalah PNS pada BPNB Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional  Aceh-Sumut. E-mail: dirmanaceh@ymail.com


Komite PKI Aceh pada Sebuah Masa

KEBERADAAN Partai Komunis Indonesia (PKI) di Aceh medio 1960-an silam, nyaris tak berbekas dalam literatur dan ingatan masyarakat Aceh.
Hal ini disebabkan banyak konflik-konflik lain di Serambi Mekkah yang menenggelamkan cerita para komunis di Aceh tersebut. Seperti halnya peperangan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, Perang Cumbok hingga konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Padahal, jika ditelusuri lembaran sejarah di Aceh, PKI juga pernah eksis dan berkembang hingga mempunyai basis organisasi yang kuat. Saat ini, sejarah PKI di Aceh hanya terdengar dari mulut ke mulut orang tua di pelosok-pelosok Aceh.
Seperti yang dituturkan Abdullah Raden, pria berusia 75 tahun asal Kabupaten Pidie Jaya yang pernah mendengar cerita pembantaian pengikut PKI di Seulawah Agam dan beberapa kawasan di Meuraxa, Banda Aceh, 47 tahun lalu.
Akan tetapi, referensi mengenai sejarah yang diceritakan tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah karena belum ada bukti fisik terkait hal tersebut. Merasa penasaran, akhirnya The Atjeh Post mencoba menelusuri sejarah komunis di Tanah Rencong.
Dalam penelusuran tersebut, ditemukan sebuah salinan berjudul; Atjeh Mendakwa yang ditulis Thaib Adamy dan dibukukan pada tahun 1964 oleh Comite PKI Atjeh 1964. Buku tersebut berkisah tentang pembelaan Thaib Adamy dihadapan sidang Pengadilan Negeri Sigli, 12 September 1963. Saat itu, Thaib Adamy dibekuk petugas keamanan karena terlibat kegiatan revolusioner di bawah payung Komunis Indonesia.
Menurut Muhammad Samikidin, Sekretaris Pertama Comitee PKI Atjeh dan Anggota CCPKI dalam buku Atjeh Mendakwa tersebut mengatakan, belum pernah perkara politik di Atjeh yang mendapat perhatian begitu besar dari rakyat seperti yang terjadi pada masa persidangan Thaib Adamy.
Sejak pengumuman penangkapan pentolan PKI tersebut hingga masa persidangan, kata Muhammad Samikidin dalam pengantarnya, hampir 5 ribu dan bahkan pernah mencapai 10 ribu warga Aceh ikut serta dalam persidangan tersebut.
“Teristimewa pada waktu kawan Thaib Adamy membatjakan pembelaannya selama 5,5 jam,” tulis Samikidin dalam buku tersebut.
Saat itu, kata Samikidin dalam buku tersebut, banyak rakyat yang mendukung pembelaan Thaib Adamy di Pengadilan Negeri Sigli dengan memberikan wesel serta petisi-petisi penolakan penahanan pentolan komunis tersebut.
Dalam pembelaannya, Thaib Adamy yang saat itu menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pertama Committee PKI Atjeh sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Aceh dari fraksi PKI mengatakan, dirinya tidak bersalah.
“Kalau pemimpin PRRI, Permesta dan DI/TII yang sudah terang melawan pemerintah RI dengan kekerasan, merusak bangunan-bangunan dan sebagainya bahkan sampai berakibat hilangnya puluhan ribu nyawa rakyat tidak dihukum, apakah adil kalau saya dipersalahkan dan dihukum karena melakukan aktivitas revolusioner, membela rakyat dan revolusi memperkuat Manipol dengan menggangjang kontra revolusi kapitalis, birokrat, pencoleng harta negara?” kata dia yang disambut dengan tepuk tangan massa yang menghadiri persidangan.
Pembelaan Thaib Adamy tersebut berlangsung hingga lima jam lebih. Dia membacakan pledoi setebal 122 halaman dengan berbagai pertimbangan politik seraya membenarkan perjuangan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Aceh.
Meskipun begitu, berdasarkan literature Atjeh Mendakwa tersebut, pembelaan Thaib Adamy sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Pengadilan Negeri Sigli. Dia dijatuhi hukuman dua tahun penjara dipotong masa tahanan dan diwajibkan membayar denda perkara sidang.
Thaib Adamy saat itu didakwa atas tindakan melakukan aksi propaganda yang menyebabkan terjadi kerusuhan. Dakwaan tersebut didasarkan pada pidato Thaib Adamy dalam rapat umum PKI tanggal 3 Maret 1963 di Sigli.
Mengenai kasus persidangan Thaib Adamy tersebut, salah satu dosen jurusan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah, Drs. Teuku Abdullah Sakti mengatakan, sejarah mengenai keterlibatan warga Aceh dalam organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1960 an tersebut, memang minim sekali referensinya.
“Saya kurang menguasai tentang sejarah PKI dan Thaib Adamy tersebut. Pasalnya, sejarah mengenai hal ini (PKI) di Aceh, terutama bukunya sangat kurang. Bahkan tidak bisa kita temukan di pustaka-pustaka di sini,” kata dia.
Dia berharap, perpustakaan di Aceh harus menambah daftar referensi perlawanan PKI di Aceh. “Ini supaya generasi muda di Aceh tahu mengenai sejarah PKI tersebut,” ujarnya.
 AP
(bna)

Mengenal Cinta Iskandar Muda Lewat Taman Ghairah Para Raja

BANYAK cara mengungkap cinta kepada seorang kekasih yang sangat kita sayangi. Baik dengan memberikannya bunga atau bahkan mengucurkan darah. Seperti halnya pria biasa, Sultan Iskandar Muda seorang Sultan Aceh pada masa kejayaannya juga mengungkapkan rasa cintanya pada istri, Putroe Phang dengan mendirikan bangunan yang kemudian disebut Gunongan.
Bangunan ini terletak hampir tepat di pusat Kota Banda Aceh dan bersisian dengan Dalam (pendopo Gubernur Aceh saat ini), berbatasan dengan Kherkoff (kuburan seradadu Belanda) dan Taman Budaya.
“Kata sahibu’t-tarikh : Pada zaman baginda-lah berbuat suatu bustan, ia-itu kebun, terlalu indah., kira sa-ribu depa luasnya. Maka di-tanami-nya pelbagai bunga-bungaan dan aneka buah-buahan. Di-gelar baginda bustan itu Taman Ghairah.
Ada-lah dewala taman itu daripada batu di-rapati, maka di-turap dengan kapor yang amat perseh seperti perak rupa-nya, dan pintu-nya menghadap ka-istana, dan perbuatan pintu-nya itu berkop, di-atas kop itu batu di-perbuat seperti biram berkelopak dan berkemunchakkan daripada sangga pelinggam, terlalu gemerlap sinar-nya berkerlapan rupa-nya, bergelar Pintu Biram Indera Bangsa.
Dan ada pada samatengah taman itu su-ngai bernama Darul-‘Ishki berturap dengan batu, terlalu jerneh ayer-nya, lagi amat sejok, barang siapa meminum dia sihat-lah tuboh-nya. Dan ada-lah terbit mata ayer itu daripada pehak raaghib di-bawah Gunong Jabalu’l-A’la, keluarnya daripada batu hitam/itu.”
Seorang sejarahwan Indonesia, Raden Dr. Hoesein Djajadiningrat dalam karyanya De Stichting Van Het “Gunongan” Geheeten Monument Te Koetaradja (pembangunan monumen yang dinamakan “Gunongan” di Kutaraja) yang dimuat dalam majalah TBG, 57 (1916), menyebutkan bahwa menurut tradisi lisan seorang raja dari Kerajaan Aceh telah memerintahkan bawahannya (utoih-utoih_dalam bahasa Aceh) untuk membuat sebuah Gunung Buatan yang dikelilingi sebuah taman untuk menyenangi permaisurinya yang berasal dari sebuah tempat jauh, yang selalu merindukan kampung halamannya yang sarat dengan gunung-gunung.
Raja yang memerintah saat itu (dalam penceritaan secara lisan) adalah Sultan Iskandar Muda yang memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1607-1636. Gunongan itu dibuat untuk menyenangkan permintaan permaisurinya yang berasal dari Pahang dan populer dengan sebutan Putroe Phang atau Putri Pahang.
Ada juga yang mengatakan, pembangunan Gunongan merupakan wujud cinta dari Sultan Iskandar Muda pada Putroe Phang yang sering dilanda rindu kampung halamannya.
Dalam pengkisahan secara turun temurun, Hoesein Djajadiningrat mengatakan, untuk mengecat bangunan gedung Gunongan tersebut masing-masing penduduk diperintahkan untuk memberi satu colek (saboh cilet) kapur untuk pewarnaan seluruh bangunan itu.
Namun dalam kitab Bustanul Salatin yang dikarang oleh Nuruddin Ar Raniry dalam Bab XIII buku kedua dari Kitab tersebut yang meriwayatkan tentang sejarah Aceh, menyebutkan bahwa yang mendirikan Gunongan tersebut adalah Sultan Iskandar Thani (1636-1641).
Dalam kitab tersebut dijelaskan mengenai pembangunan sebuah taman yang disebut dengan Taman Ghairah oleh Sulthan Aceh.
"Shahdan adalah pertemuan dewala Taman Ghairah itu yang pada Sungai Daru’l-Ishki itu, dua buah jambangan, bergelar Rambut Gemalai. Maka kedua belah tebing Sungai Daru’l ‘Ishki itu di-turap-nya dengan batu panchawarna, bergelar Tebing Sangga Saffa.
Dan adalah kiri kanan tebing sungai arah ka-hulu itu dua buah tangga batu hitam di-ikat-nya dengan tembaga semburan seperti emas rupa-nya. Maka ada-lah di-sisi tangga arah ka-kanan itu suatu batu me-ngampar, bergelar Tanjong Indera Bangsa.
Di-atas-nya suatu balai dulapan sagi, seperti peterana rupa-nya. Sana-lah hadharat Yang Mahamulia semayam mengail. Dan di-sisi-nya itu sa-pohon buraksa terlalu rampak, rupa-nya seperti payong hijau. Dan ada-lah sama tengah Sungai Daru’l-‘Ishki itu sa-buah pulau bergelar Pulau Sangga Marmar. Di-kepala pulau itu sabuah batu mengampar, perusahan-nya seperti tembus, bergelar Banar Nila Warna.
Dan ada-lah keliling pulau itu karang berbagai warna-nya, bergelar Karang Panchalogam. Di-atas Pulau Sanggar Marmar itu suatu pasu, ia-itu permandian, bergelar Sangga Sumak. Dan ada-lah isi-nya ayer mawar yazdi yang amat merebak bau-nya, tutup-nya daripada perak, dan kelah-nya daripada perak, dan charak-nya daripada fidhah yang abyadh. Dan ada-lah kersek pulau terlalu elok rupa-nya, puteh seperti kapor barus."
Berdasarkan teks dari kitab tersebut kiranya dapat diketahui pada dasarnya bangunan Gunongan itu berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat.
Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan. Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung.
Peterana batu berukir berupa kursi bulat berbentuk kelopak bunga yang sedang mekar dengan lubang cekung di bagian tengah. Kursi batu ini berdiameter 1 m dengan arah hadap ke utara dan mempunyai tinggi sekitar 50 cm. Sekeliling peterana batu berukir berhiaskan arabesque berbentuk motif atau jaring jala.
Peterana batu berukir berfungsi sebagai tahta tempat penobatan sultan. Belum diketahui dengan pasti nama-nama sultan yang pernah dinobatkan di atas peterana batu berukir tersebut.
Bustanus as salatin menyebutkan ada dua buah batu peterana, yaitu peterana batu berukir (kembang lela masyhadi) dan peterana batu warna nilam (kembang seroja). Namun yang masih dapat disaksikan hingga saat ini adalah peterana batu berukir kembang lela masyhadi yang terletak bersebelahan dengan Gunongan dan berada di sisi sungai.
Dalam komplek Gunongan tersebut juga dikatakan terdapat Kandang Baginda. Kandang Baginda ini merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makam Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) dan istri Sulthanah Tajul Alam (1641-1670).
Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 cm dan lebar 18 m. Bangunan ini dibuat dari bahan bata berspesi kapur serta berdenah persegi empat dengan pintu masuk di sisi selatan.
Areal pemakaman terletak di tengah lahan yang ditinggikan. Konon lahan yang ditinggikan pernah dilindungi oleh sebuah bangunan pelindung. Pagar keliling Kandang mempunyai profil berbentuk tempat sirih dengan tinggi 4 meter.
Pagar ini diperindah dengan beragam ukiran berbentuk nakas, selimpat (segi empat), temboga (seperti hiasan tembaga). Mega arak-arakan (awan mendung) dan dewala (hiasan serumpun bunga dengan kelopak yang runcing dan bintang_seperti teratai), merupakan hiasan. Pada kolom tembok keliling berupa arabesque berbentuk pola suluran mengikuti bentuk segi empat.
Mega arak-arakan yaitu hiasan arabesque berupa awan mendung yang dibentuk dari suluran sebagai hiasan sudut pada bingkai dinding. Dewamala merupakan hiasan yang berbentuk menara-menara kecil berjumlah dua belas buah di atas tembok keliling terutama di bagian sudut, berbentuk bunga dengan kelopak daunnya yang runcing menguncup. Menurut sumber bangunan ini dibuat oleh orang Turki atas perintah Sulthan.
Di sisi barat Taman Ghairah (Gunongan) terdapat Medan Khairani yang merupakan sebuah padang luas dan diisi dengan pasir dan kerikil, dikenal dengan nama kersik batu pelinggam. Sebagian besar lahannya kini digunakan sebagai Kherkoff. Kompleks makam ini digunakan untuk menguburkan prajurit Belanda yang gugur dalam Perang Aceh (1873-1942).
Dalam Taman Ghairah juga dibangun lima unit balai dengan halaman pada tiap-tiap balai beserta teknik pembangunan dan kelengkapan ragam hiasnya. Balai merupakan bangunan panggung terbuka yang dibangun dari kayu dengan fungsi yang berbeda-beda.
Balai-balai tersebut antara lain Balai Kambang yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan. Kemudian Balai Gading yang berfungsi sebagai pelaksanaan kenduri, Balai Rekaan Cina tempat peristirahatan yang dibangun oleh ahli bangunan dari Cina, Balai Keemasan tempat peristirahatan yang dilengkapi dengan pagar keliling dari pasir dan Balai Kembang Caya. Sayangnya, balai-balai yang disebutkan dalam kitab Bustanul Salatin saat ini sudah tidak ada yang tersisa
Bangunan lain yang terdapat dalam Taman Ghairah ini adalah Pinto Khop (Pintu Biram Indrabangsa) yang secara bebas dapat diartikan dengan pintu mutiara keindraan atau kedewaan/raja-raja. Di dalam Busatanul Salatin disebut dengan Dewala.
Gerbang yang lebih dikenal dengan sebutan Pinto Khop ini merupakan pintu penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini berukuran panjang 2 m, lebar 2 m dan tinggi 3 m. Pinto Khop ini terletak pada sebuah lembah sungai Darul Isyki (Krueng Daroy).
Dugaan sementara, tempat ini merupakan tebing yang disebutkan dalam Bustanul Salatin dan bersebelahan dengan sungai tersebut. Dengan adanya perombakan pada tata kota Banda Aceh dikemudian hari, Pinto Khop akhirnya tidak berada lagi dalam satu komplek dengan Taman Sari Gunongan (taman ini juga telah berubah dari arsitektur semula seperti yang digambarkan dalam kitab Bustanul Salatin).
Bangunan Pinto Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dilalui dengan arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang, sehingga menimbulkan fantasi (efek) figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut.
Atap bangunan yang bertingkat tiga dihiasi dengan berbagai hiasan dalam bingkai-bingkai antara lain; biram berkelopak (mutiara di dalam kelopak bunga seperti yang ditemukan juga pada bangunan Gunongan) dan bagian puncak dihiasi dengan sangga pelinggam (mahkota berupa topi dengan bagian puncak meruncing).
Bagian atap merupakan pelana dengan modifikasi di empat sisi dan berlapis tiga. Pada sisi utara dan selatan dewala ini berkesinambungan dengan tembok tebal (tebal 50 m dan tinggi 130 meter) yang diduga merupakan pembatas antara lingkungan Dalam (kraton) dengan taman. Namun, lagi-lagi dikemudian hari tembok tersebut tidak diketemukan lagi akibat pembangunan tata ruang kota Banda Aceh.
Komplek Gunongan pernah di eskavasi (penggalian kepurbakalaan) oleh tim dari Direktorat Purbakala, Jakarta yang dipimpin oleh Hasan Muarif Ambary pada tahun 1976. Dalam eskavasi tersebut, ditemukan banyak kepingan-kepingan emas dan juga ditemukan sebuah keranda berlapiskan emas. Diperkirakan, keranda tersebut adalah milik Sultan Iskandar Thani, menantu Sultan Iskandar Muda.
Emas-emas hasil penggalian tersebut kemudian diboyong ke Jakarta untuk disimpan di Museum Nasional Jakarta dan sebahagiannya di Museum Negeri Aceh. Namun, tidak dijelaskan berapa jumlah kepingan emas yang ditemukan tersebut secara terperinci oleh pihak yang berwenang dalam sumber yang digunakan oleh penulis.
“….dan tiada-lah hamba panjangkan kata beberapa dari kekayaan Allah s.w.t yang gharib. Dan sakalian dalam taman itu daripada sarwa bagai buah-buahan daripada buah serbarasa, dan buah tufah, dan buah anggor, dan buah tin, dan delima, dan buah manggista, dan buah rambutan…” 
 AP
(bna)

Ada Benda Aneh Mirip Piring Terbang di Google Maps

Ada gambar piring terbang di Google Maps
Ada gambar piring terbang di Google Maps (Google)
Dua benda aneh tertangkap Google di Texas dan New Mexico. Dua benda aneh mirip piring terbang tertangkap di Google Maps. Yang satu ada di Texas, sementara penampakan benda aneh lainnya ada di New Mexico.

Jarak penampakan kedua benda aneh di langit tersebut terpisah sampai 1.000 mil. Tapi, anehnya mirip. Gambar ini berupa bayangan menyerupai bentuk pesawat UFO, berwarna oranye menyala.

Dikutip dari laman Dailymail, pengguna online dapat melihat dua benda ini di Jacksonville, Texas dan di Sky City Casino Hotel, 32 Indian Service Route 30, Acoma Pueblo, New Mexico.
Gambar ini kemudian memunculkan pertanyaan, bagaimana bentuk piring terbang tersebut bisa terekam di Google.

Kedua objek tersebut sama-sama berada di atas jalan. Gambar piring terbang yang ada di Texas pertama kali diungkapkan warga bernama Andrea Dover kepada sebuah stasiun televisi. Dia menyadari gambar aneh tersebut saat mencari jalan di Google Maps.

Sejauh ini, belum ada yang bisa menjelaskan gambar tersebut, khususnya penduduk di kedua kota. Teori yang paling populer dan masuk akal adalah: gambar mirip piring terbang berpendar tersebut merupakan silau matahari yang tertangkap kamera.

KLTV, stasiun televisi yang berafiliasi dengan ABC sampai mengirimkan wartawannya untuk menginvestigasi gambar tersebut. Tapi, sang wartawan hanya mendapat kata "wow" dari penduduk di Jacksonville.

Waktu Terasa Kian Cepat, Tanda Hadirnya Imam Mahdi?

Waktu Terasa Kian Cepat, Tanda Hadirnya Imam Mahdi?


Ilustrasi jam kerja


'Hari Kiamat tak akan datang kecuali insiden berikut ini terjadi. Waktu akan semakin singkat, di mana jarak akan semakin pendek dengan digunakannya kendaraan.'' (Buhari, Fitan.25; Ahmad ibn Hanbal, Musnad, 2/313).

Dalam hadis lain disebutkan, Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, ''Hari Kiamat tak akan datang kecuali waktu semakin singkat. Penyingkatan ini terjadi sedemikian cara seperti satu tahun yang berlalu seperti sebulan, dan sebulan yang berlalu seperti seminggu, dan seminggu berlalu seperti satu hari dan satu hari yang berlalu seperti satu jam dan satu jam yang berlalu seperti secepat kilat.'' (Tirmidhi, Zuhd: 24, 2333).

Cendekiawan Muslim Harun Yahya mengungkapkan, saat ini waktu memang terasa berputar lebih cepat. Perjalanan yang dulu berlangsung beberapa bulan, kini dapat dilakukan dalam beberapa jam.

''Dengan perbandingan yang lebih aman, lebih mudah, dan format yang lebih nyaman,'' ujar Harun Yahya.

Tak cuma itu, komunikasi yang dulu membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menjangkau wilayah antarbenua, saat ini dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik melalui internet dan teknologi komunikasi lainnya.

Selain itu, papar Harun Yahya, tugas sehari-hari seperti membersihkan, memasak, penitipan anak, pemeliharaan, dan belanja tidak lagi mengambil terlalu banyak waktu dengan menggunakan perangkat elektronik yang canggih.

''Pertanda akhir zaman yang telah disebut Rasulullah SAW itu secara ilmiah telah terbukti. Waktu semakin singkat,'' papar cendekiawan memiliki nama asli Adnan Oktar itu.

Menurut Harun Yahya, di ruang di antara permukaan bumi dan ionosfer konduktif, terdapat getaran alami. Frekuensi mendasar ini yang juga dikenal sebagai Detak Jantung Dunia, disebut sebagai Resonansi Schumann.

''Hal tersebut telah diramalkan secara matematis oleh fisikawan Jerman Winfried R Schuman pada tahun 1952,'' tuturnya.

Resonansi Schumann, kata dia, sangat penting karena membungkus bumi. ''Dengan demikian terus menjaga alam dan semua bentuk kehidupan di bawah efeknya. Hal ini secara terus menerus diukur oleh pusat penelitian fisika terkemuka di dunia.''

Pada 1950, Resonansi Schumann diukur pada skala 7.8 hertz. Nilai ini dianggap tetap konstan. Memang sistem komunikasi global militer ini didirikan di atas frekuensi ini.

Namun, pada 1980-an, terjadi perubahan tiba-tiba. Sebab, pada tahun itu Resonansi Schumann diukur di atas 11 hertz. ''Laporan terbaru telah mengungkapkan bahwa angka ini bahkan akan meningkat lagi. Perubahan dalam Resonansi Schumann; frekuensi menunjukkan mempercepat waktu,'' tuturnya.

Dengan demikian, waktu 24 jam terasa seperti 16 jam atau kurang. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjelaskan mengapa angka ini mengalami kenaikan, atau faktor yang menyebabkannya meningkat.

''Dengan makin singkatnya waktu, pertanda akhir zaman yang diramalkan oleh Nabi SAW terbukti secara ilmiah saat ini,'' tuturnya.

Bumi semakin dipersiapkan untuk hari Kiamat dan oleh kehendak Allah pertanda yang diisyaratkan terjadi secara berturut turut.

“Di masa lalu, hari itu lebih lama; kami dapat melakukan banyak pekerjaan setiap hari. Waktu telah makin singkat. Ini jelas. Ini adalah pertanda dari Akhir Zaman. Ini adalah pertanda hadirnya Imam Mahdi. Ini adalah sebuah keajaiban yang disebutkan Nabi Muhammad SAW,'' papar Adnan Oktar dalam wawancara dengan AKS SAMSUN TV dan TV KAYSERI.


''Semua orang mengatakan ini. Akhir pekan datang dalam waktu singkat. Apakah akhir pekan datang begitu cepat di masa lalu? Hari-hari tersebut tidak terelewati. [Sekarang] hari berakhir dalam sekejap. Satu kali tidur untuk sementara waktu, untuk tujuh atau delapan jam, kemudian dia terbangun, sarapan dan malam datang dan hari berakhir. Orang pergi bekerja dan dalam waktu singkat kembali ke rumah dan tidur. Dia tidak punya waktu untuk bernapas,'' ungkapnya.


Redaktur: Heri Ruslan
harunyahya

Bisakah Jin Diperintah Manusia? (5-habis)

Bisakah Jin Diperintah Manusia? (2)

Ilustrasi

Manusia dan binatang
Dalam pandangan ulama, jin memiliki kemampuan membentuk dirinya dalam berbagai bentuk.

Memang, dari Alquran tidak ditemukan penjelasan tentang hal ini, tetapi banyak riwayat yang menginformasikannya.

Pakar tafsir, Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa ketika pemuka-pemuka suku di Makkah berunding untuk menghadapi Nabi Muhammad SAW, iblis tampil dalam bentuk seorang tua terhormat dari suku Najed dan memberikan mereka saran agar memilih dari setiap suku seorang pemuda.

Kemudian, pemuda-pemuda pilihan itu secara bersamaan membunuh Muhammad SAW. Dengan demikian, suku Nabi Muhammad (Quraisy) tidak dapat menuntut balas karena mereka akan berhadapan dengan banyak suku.

Ibnu Katsir mengemukakan juga riwayat yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas RA bahwa dalam Perang Badar, iblis tampil dalam gabungan tentara setan dalam bentuk seorang yang mereka kenal, bernama Suraqah Ibnu Malik Ibnu Ju’syum, yang ditakuti oleh suku Quraisy karena ada dendam di antara mereka.

Suraqah berkata kepada kaum musyrikin, “Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini dan aku adalah pembela kamu.”

Tetapi, ketika perang berkecamuk, Rasulullah mengambil segumpal tanah dan melemparkannya ke muka orang-orang musyrik sehingga mereka kacau balau. Ketika itu, malaikat Jibril menuju ke arah iblis yang menyerupai Suraqah yang sedang memegang tangan salah seorang musyrik.

Dan setelah ia melihat Jibril, makhluk terkutuk itu melepaskan tangan yang dipegang dan meninggalkan medan pertempuran bersama kelompoknya.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan bahwa Abu Hurairah menangkap jin yang berbentuk manusia ketika ia mencuri kurma sedekah.

Rasulullah SAW juga menyampaikan kepada para sahabat beliau, “Semalam, tiba-tiba muncul di hadapanku jin Ifrit untuk membatalkan shalatku, Allah menganugerahkan aku kemampuan menangkapnya dan aku bermaksud mengikatnya pada salah satu tiang masjid hingga kalian semua di pagi hari dapat melihatnya. Tetapi, aku mengingat ucapan (permohonan) saudaraku (Nabi) Sulaiman, 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku'.” (QS Shad: 35).

Selain berwujud manusia, jin juga dapat tampil dalam wujud binatang. Imam Bukhari menyebutkan dari sekian riwayat menyangkut perubahan bentuk jin, antara lain dalam bentuk ular.

Sementara itu, Ibnu Taimiyah menulis dalam kumpulan fatwa-fatwanya bahwa jin dapat mengambil bentuk manusia atau binatang, seperti ular, kalajengking, sapi, kambing, dan kuda.


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Bisakah Jin Diperintah Manusia? (4)


Bisakah Jin Diperintah Manusia? (2)


Ilustrasi


Selain membagi jin ke dalam kelompok-kelompok, banyak ulama juga menegaskan bahwa jin, sebagaimana semua makhluk ciptaan Allah, terdiri dari dua jenis kelamin; laki-laki dan perempuan.

Ayat yang dijadikan alasan para ulama penganut pandangan ini, antara lain Surah Yasin ayat 36, “Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”

“Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin.” Dijadikan juga oleh sementara ulama sebagai bukti adanya jenis kelamin lelaki dan perempuan bagi makhluk jin. (QS Al-Jin: 6).

Menurut Syauqi Abu Khalil dalam “Atlas Al-Qur’an”, para jin ini terbagi dua, yakni jin kafir dan jin yang Islam (Mukmin). Jin yang beriman akan ditempatkan di surga dan jin kafir akan ditempatkan di neraka.

Sementara itu, Rasulullah SAW menggambarkan, para jin itu terbagi tiga golongan, yakni golongan yang bisa terbang di udara, golongan ular dan anjing, serta golongan yang bermukim dan hidup berpindah-pindah.

Dari Abu Darda, bahwa Nabi SAW bersabda, “Allah menciptakan jin tiga macam. Ada yang berupa ular, kalajengking, dan bermukim atau berpindah-pindah, dan ada yang bagaikan angin di udara serta ada juga jenis yang akan dimintai pertanggungjawaban dan disiksa.” (Hadis sahih yang diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam “Maqasid Asy-Syaithan”, juga dalam “Hawatif”, riwayat Al-Hakim, dan lainnya).

Sementara itu, kalangan ulama kontemporer, tulis Quraish, berpendapat bahwa jenis jin yang bermukim dan berpindah-pindah tempat adalah kuman-kuman penyakit. Sedangkan, jin yang memiliki sayap antara lain adalah makhluk angkasa luar.


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Bisakah Jin Diperintah Manusia? (2)


Bisakah Jin Diperintah Manusia? (2)
Ilustrasi

Alquran memberitahukan bahwa Allah SWT menghadapkan serombongan jin kepada Nabi Muhammad SAW untuk mendengarkan Alquran.

Mereka mendengarnya dengan penuh ketekunan. Ketika pembacaan sudah selesai, mereka kembali pada kaumnya untuk memberi peringatan.

Mereka mengatakan kepada kaumnya bahwa mereka telah mendengar Alquran, kitab yang diturunkan setelah Musa AS, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

Lebih jauh, mereka mengharapkan agar kaumnya mau menerima seruan mereka dan segala dosa mereka diampuni. Bila mereka (kaum jin) tidak menerima seruan tersebut, azab Allah SWT pasti menimpa mereka, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT Surah Al-Ahqaf [46] ayat 29-32.

Ibnu Mas’ud menyatakan dirinya ikut menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini. Rasulullah SAW bersabda, “Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu, kami pergi bersamanya, dan aku bacakan Alquran kepada mereka.” Peristiwa itu terjadi di Masjid Jin, Makkah, di dekat pemakamam Ma’la (Arab Saudi) sekarang ini.

Diperintah manusia
Seorang manusia yang pernah memerintah jin terjadi pada zaman Nabi Sulaiman AS. Di masa Nabi Sulaiman berkuasa, pernah sebagian jin dengan izin Allah SWT diperintahkan untuk bekerja di bawah kekuasaannya.

Mereka berbuat apa yang dikehendaki Nabi Sulaiman, seperti membuat gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang besarnya seperti kolam, dan periuk yang tetap berada di atas tungku. Lihat QS Saba [34] ayat 12-13.

Peristiwa Nabi Sulaiman yang memberikan tugas kepada kaum jin ini juga menunjukkan bahwa para jin mempunyai keterampilan dan ilmu pengetahuan tentang hal tersebut. Akan tetapi, ilmu yang mereka miliki juga sangat terbatas. Misalnya, mereka baru mengetahui bahwa Nabi Sulaiman wafat setelah jasadnya tersungkur karena tongkatnya dimakan rayap.

Sejumlah ulama juga berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW juga memperoleh anugerah yang sama. Beliau juga dapat menundukkan jin. Dalam suatu kesempatan, beliau pernah bermaksud mengikat salah satu jin yang menganggu ketika sedang shalat, tetapi maksud tersebut beliau batalkan karena mengingat permohonan Nabi Sulaiman untuk memperoleh anugerah yang tidak wajar diperoleh seseorang pun sesudah beliau.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Bisakah Jin Diperintah Manusia? (3)

Bisakah Jin Diperintah Manusia? (2)


Ilustrasi

Tiga tingkatan
Ibnu Taimiyah membagi manusia yang mampu memerintah jin pada tiga tingkat.

Pertama, memerintah jin sesuai dengan yang diperintahkan Allah, yakni beribadah hanya kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya. Siapa yang melakukan ini, ia termasuk wali Allah yang paling utama.

Kedua, memanfaatkan jin untuk tujuan-tujuan mubah (bukan yang dilarang bukan pula yang dianjurkan agama) sambil memerintahnya melaksanakan kewajiban dan menghindari larangan Allah. Orang seperti ini bagaikan raja. Kalaupun ia termasuk wali Allah, peringkatnya di bawah peringkat pertama.

Ketiga, menggunakan jin untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti syirik dan membunuh. Manusia yang termasuk kategori ketiga ini menurut Ibnu Taimiyah sebenarnya telah tertipu oleh setan.

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, seorang ulama Al-Azhar kontemporer, berpendapat bahwa Allah SWT dengan Qudrat-Nya mampu menjadikan jenis makhluk yang rendah memperalat dan mengatasi jenis makhluk yang tinggi. Syekh Asy-Sya’rawi menambahkan, kemungkinan yang tergambar dalam benak menyangkut kekuasaan manusia atas jin adalah terhadap jin yang baik atau yang jahat.

Jin yang baik, sebagaimana manusia yang baik. Menurut asy-Sya'rawi, mereka tidak mungkin rela diperalat oleh siapa pun. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa tidak ada jin yang ditundukkan atau diperalat manusia, kecuali yang jahat.

Jenis-jenis jin
Para ulama memahami bahwa jin memiliki kelompok-kelompok yang tidak ada bedanya dengan masyarakat manusia. Ada sekian ayat yang dijadikan alasan oleh para penganut pandangan ini, antara lain firman-Nya, “Hai kelompok jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS Ar-Rahman [55] ayat 33).

Kata kelompok yang ditujukan kepada jin dan manusia, terang M Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Yang Halus dan Tak Terlihat: Jin Dalam Alquran” menunjukkan, antara tiap-tiap jenis itu terdapat ikatan yang menyatukan anggota-anggotanya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Bisakah Jin Diperintah Manusia? (1)

Bisakah Jin Diperintah Manusia? (1)

Ilustrasi



Sejumlah ulama berpendapat bahwa manusia dan jin sama-sama dibebani dengan hukum taklifi (kewajiban dan larangan).

Karena itu, para jin pun berkewajiban menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Lihat Surah Adz-Dzariyat [51]: 56.

Mereka yang menjalankan perintah tersebut tentu saja akan mendapatkan balasan pahala dari Allah dan yang mengerjakan larangan-Nya juga akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Dalam Surah Ar-Rahman terdapat sejumlah pernyataan Allah SWT yang berulang-ulang tentang kamu berdua mendustakan” (tukazziban). Yang dimaksud di sini adalah jin dan manusia.

Lalu, darimanakah mereka mengetahui semua perintah itu, dan bagaimana mereka menaatinya? Adakah rasul yang berasal dari golongan jin? Tak ada keterangan mengenai hal ini. Hanya saja, Alquran menyebutkan bahwa jin dan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah.

Dalam Alquran disebutkan bahwa setiap umat itu ada seorang rasul yang diutus kepada mereka untuk menyeru dan mengajaknya pada jalan kebenaran. Tiap-tiap umat mempunyai rasul. “Apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” (QS Yunus [10]: 47).

Menurut sejumlah pendapat ulama, tak ada jin yang diutus menjadi nabi dan rasul. Karena itu, nabi dan rasul hanya berasal dari golongan manusia. Dan setiap nabi dan rasul itu berkewajiban menyampaikan dakwahnya kepada umat manusia dan golongan jin. Karena itulah, ada jin yang beriman dan ada pula yang tidak. Yang beriman disebut dengan jin Muslim dan yang ingkar atau jahat berasal dari golongan jin kafir.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Mengenal Jin (4)

Mengenal Jin (1)

Ilustrasi

Pena
Adapun makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah pena. Pendapat ini telah ditarjih dan dikuatkan oleh Ibnu Jarir dan Nashiruddin Al-Albani RA.

Setelah Allah menciptakan qalam, kemudian dilanjutkan dengan penciptaan tinta (dawat). Selanjutnya, Allah menciptakan air, kemudian Arasy (singgasana), kursi, Lauh Al-Mahfuzh, langit dan bumi (semesta), malaikat, surga, neraka, jin dan iblis (setan), serta Adam AS.

Dari Ubadah bin As-Shamit, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Awal makhluk yang Allah SWT ciptakan adalah pena, lalu Dia berkata kepada pena, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Apa yang aku tulis?’ Allah berkata, ‘Tulislah apa yang akan terjadi dan apa yang telah terjadi hingga hari Kiamat.”

Imam Ahmad RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena, lalu Dia berkata kepada pena tersebut, ‘Tulislah.’ Karenanya, pada saat itu berlakulah segala apa yang ditetapkan hingga hari akhir.” (Lihat Musnad Ahmad RA).

Tempat tinggal yang disukai jin
Seperti halnya manusia, jin juga punya tempat tinggal dan bahkan beranak pinak. Tentu saja, tempat tinggalnya berbeda dengan tempat tinggal manusia. Rumahnya tak terlihat oleh manusia.

Bahkan, dalam berbagai literatur, disebutkan bahwa sebelum Nabi Muhammad SAW diutus menjadi rasul, kaum jin pernah menduduki beberapa tempat yang ada di langit. Di sana, mereka mendengar berita dan informasi yang ada di langit.

Namun, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan rasul, para jin ini tidak lagi tinggal di tempat tersebut. Bahkan, mereka juga tak mampu mencari informasi atau kabar dari langit. Lihat Surah Al-Jin [71] ayat 8-9.

Sejak tak mampu lagi menembus kabar dari langit dan bertempat tinggal di sana, para jin mencari tempat tinggal yang baru. Mereka tinggal di atas muka bumi ini. Rasul SAW mengabarkan, banyak tempat yang disukai oleh jin, di antaranya laut, kamar mandi, tempat yang kotor (sampah), dan lainnya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Mengenal Jin (2)

Mengenal Jin (1)

Ilustrasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata jin diartikan sebagai makhluk halus (yang dianggap berakal).

Sementara itu, Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve mendefinisikan jin sebagai sejenis makhluk halus yang berakal dan mempunyai keinginan-keinginan sebagaimana manusia.

Perbedaannya dengan manusia ialah jin tidak memiliki tubuh. Oleh karena itu, jin tidak dapat dilihat dalam bentuk aslinya, kecuali ia mengubah diri dalam bentuk lain, karena jin dapat mengubah diri dalam bentuk yang dikehendakinya, sebagaimana malaikat.

Informasi tentang makhluk jin ini dapat diperoleh melalui Alquran karena Allah-lah Yang Mahamengetahui tentang makhluk ciptaan-Nya. Banyak sekali ayat Alquran yang redaksinya dapat dijadikan dalil untuk membuktikan adanya makhluk berwujud yang bernama jin.

Dalam Alquran dijelaskan bahwa jin diciptakan dari api yang menyala (marij) dan ia adalah ujung api yang berkobar. Marij adalah kobaran api yang bercampur dengan api hitam (sangat panas, as-samuum). Lihat Ar-Rahman [55]: 15 dan Al-Hijr [15]: 27. “Dia (Allah) menciptakan jin dari nyala api.” (QS Ar-Rahman [55]: 15).

Dari Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang berkobar, sedangkan Adam (manusia) diciptakan sebagaimana yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah).” (HR Muslim).

Oleh karena diciptakan dari api, jin mempunyai bobot yang lebih ringan dari udara dan dapat memenuhi jagad raya tanpa ada yang menghalanginya.

Hal ini pula yang mendorong mereka untuk mencoba mengetahui rahasia langit. Mereka mendapati bahwa langit itu penuh dengan penjagaan yang ketat dan penuh dengan panah-panah api.


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Mengenal Jin (3)

Mengenal Jin (1)

Ilustrasi

Syekh Abdul Mun’im Ibrahim dalam bukunya “Ma Qabla Khalqi Adam”, dan telah diterjemahkan dengan judul “Adakah Makhluk Sebelum Adam? Menyingkap Misteri Awal Kehidupan”, menjelaskan bahwa jin termasuk diantara makhluk Allah yang telah diciptakan dengan kewajiban menjalankan syariat-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyat [51]: 56).

Lebih dulu
Kapankah jin diciptakan oleh Allah? Lebih dahulu manakah dia diciptakan dibandingkan dengan Adam, Iblis, dan Malaikat?

Dalam Surah Al-Hijr [15] ayat 26-27 diterangkan bahwa Allah menciptakan jin lebih dahulu dibandingkan dengan manusia.

“Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan, Kami telah menciptakan jin sebelum Adam dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr [15]: 26-27).

Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan bahwa penciptaan jin lebih awal dari manusia, namun Alquran tidak menjelaskan berapa jarak antara penciptaan kedua makhluk tersebut. Adapun jin yang pertama kali diciptakan adalah al-jan, bapak para jin.

Ia kemudian berkembang biak sebagaimana Adam yang merupakan manusia pertama yang diciptakan dari tanah kemudian berkembang biak. Demikian disebutkan dalam Ensiklopedi Islam.

Sementara itu, menurut Syekh Mun’im, Adam bukanlah makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah. Pendapat senada juga terdapat dalam buku “Al-Jamharah” karya Abu Darid, “At-Tahzib” karya Al-Azhari, “Diwan Al-Adab” karya al-Farabi, “Mu'jam Maqayis Al-Lughah” karya Ibnu Faris, “Lisan Al-Arab” karya Ibnu Al-Manzhur Al-Ifriqi, lalu “As-Shahhah” karya Al-Jauhari, dan “Al-Mukhtar” karya Ar-Razi.


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Mengenal Jin (5-habis)

Mengenal Jin (1)



Ilustrasi

Toilet adalah salah satu tempat di muka bumi yang disukai jin. Karena itu, Nabi SAW menganjurkan setiap orang yang akan memasuki toilet memohon perlindungan Allah SWT dengan membaca, “Allahumma inni a’udzu bika min al-khubutsi wa al-khaba’its (Ya, Allah, aku memohon perlindunganmu dari gangguan jin pria dan jin wanita).”

Quraish Shihab menjelaskan, pegunungan, lautan, pasar, dan atap rumah juga disebut-sebut dalam berbagai riwayat sebagai tempat yang disukai jin.

Ibnu Taimiyah menulis bahwa jin banyak berada di tempat-tempat kumuh, yang di dalamnya terapat najis, seperti tempat pembuangan sampah dan kuburan.

Sebagaimana manusia dan hewan, para jin ini juga makan dan minum, menikah, beranak, serta mati. Menurut Syekh Abdul Mun’im Ibrahim, para jin ini adalah penghuni dunia yang hidup di tempat-tempat sepi dari manusia dan di padang pasir.

Dan di antara para jin itu, ada yang hidup di pulau-pulau di tengah laut, di tempat sampah, di tempat rusak, dan di antara mereka ada yang hidup bersama manusia.

Jin memiliki kemampuan yang tidak ada pada manusia, seperti terbang, naik ke langit, mendengar apa yang tidak bisa didengar oleh manusia, dan mereka juga melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh manusia.

Banyak hadis juga menginformasikan bahwa jin berkeliaran pada saat menjelang matahari terbenam dan pada waktu-waktu gelap.

Jabir Ibn ‘Abdillah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada awal malam atau pada saat kalian memasuki waktu petang, lindungilah anak-anak kalian karena setan berkeliaran saat itu. Apabila awal malam telah berlalu, biarkan mereka dan tutuplah pintu serta sebutlah nama Allah karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup (jika disebut nama Allah ketika menutupnya).” (HR Bukhari-Muslim).

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Mengenal Jin (1)

Mengenal Jin (1)





Ilustrasi
Mendengar nama jin (jinn, dalam bahasa Arab), terbayang tentang makhluk Allah yang sangat menyeramkan, berwajah sangar, suka mengganggu manusia, lidah menjulur, dan lain sebagainya.

Namun, ia tak terlihat. Karena itu disebut dengan makhluk halus. Bahkan, banyak orang yang menyebutkan, wajah jin senantiasa sangat mengerikan.

Andai bisa memilih, banyak orang yang tak ingin melihat rupanya. “Pokoknya seram,” begitulah pendapat sejumlah orang tentang makhluk Allah yang satu ini.

Jin adalah jenis makhluk Allah yang tak tampak oleh mata. Karena itu, banyak orang lantas menyebutnya dengan makhluk halus, atau makhluk gaib.

Sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, umat Islam wajib memercayai hal-hal yang gaib. Malaikat gaib, neraka juga gaib, dan surga juga gaib, termasuk keberadaan jin.

Karena tak terlihat, banyak manusia yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan jin. Sebab, terkadang di antara jin tersebut ada yang suka usil dan mengganggu manusia.

Namun, bagi sebagian manusia yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus ini, mereka kerap menjadikannya sebagai teman atau bahkan meminta pertolongan. Hal inilah yang dianggap banyak orang dapat menimbulkan syirik terhadap Allah.

Jauh sebelum manusia mengenal agama-agama besar, bahkan sejak masa awal sejarah kemanusiaan, kepercayaan tentang makhluk halus (gaib) ini telah ada. Mereka bahkan memuja dan memohon pertolongan kepada makhluk-makhluk halus tersebut.

Karena itu, zaman itu dikenal dengan animisme. Sedangkan orang yang memercayai kepada segala sesuatu mempunyai kekuatan gaib disebut dengan dinamisme.

Menurut cendekiawan Muslim sekaligus pakar tafsir Alquran di Indonesia, Prof Dr HM Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul “Yang Halus dan Tak Terlihat: Jin Dalam Alquran” memaparkan, hal pertama yang ditemukan dalam Alquran adalah uraian tentang fungsi Alquran sebagai hudan (petunjuk) bagi orang-orang bertakwa. Sedangkan, sifat pertama orang-orang bertakwa adalah yu'minuna bi al-ghaib (percaya yang gaib).


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya